September 05, 2014

Kalau Mau Putus, Coba Cari Alasan Selain Ini




Ceritanya, hubungan kalian sudah berusia satu tahun lebih sedikit. Lalu, sang lelaki tetiba bilang ingin bicara sesuatu yang penting. Sudah dapat ditebak arahnya, kalau tidak perihal membicarakan hubungan ke jenjang yang lebih serius, ya pasti mau minta putus.

Lumrah itu terjadi pada remaja ababil umur 20-an, yang masih ingin ‘coba-coba’ dan ‘proses mencari jati diri’, baik sebagai lelaki, ataupun perempuan.

Namun, apabila di balik ‘bicara penting’ tadi menguakkan permintaan putus, coba deh para ‘Pemutus Hubungan Sepihak’ mencari alasan ‘minta putus’, selain yang di bawah ini. Maaf, alasan kalian sudah basi!

1. Kamu Terlalu Baik Buat Aku.

Sudah. Kalau seorang lelaki bicara seperti ini kepada perempuannya ketika minta putus, ya sudah, lebih baik tinggalkan saja. Ibaratnya omong kosong, ini bullsh*t tingkat dewa.

Secara logika, dia mendapatkan seseorang yang baik seperti kamu. Lalu, mengapa justru dia ingin melepasmu? Aneh bin gak ngerti lagi. Atau, ini memang bermakna literal, dia sudah tidak baik lagi untuk kamu. Maka, kenapa kamu memberat-beratkan dia untuk terus bersamamu? Coba dilebarkan tatap matamu sekarang. Cinta itu tidak buta kok. Cinta itu pakai logika. Adakah lelaki seperti ini akan baik untukmu ke depannya? Silakan dijawab sendiri ya.

2. Aku Ingin Serius Mengejar Cita-citaku Dulu.

Nah, yang ini, level ngibul-nya lumayan lihai dan masuk akal. Tapi tetap saja ada yang salah. Begini, kalau memang dia benar-benar suka sama kamu dan serius, pastilah kebahagiaanmu juga merupakan bagian dari cita-citanya.

Bukankah kebahagiaan sang perempuan ialah tolak ukur kesuksesan lelakinya?

Akan tetapi, fakta berkata lain. Alasan ‘aku ingin serius mengejar cita-citaku dulu’ justru ampuh untuk memutuskan sebuah hubungan. Mungkin, kalau anak SMA pasti akan bangga, diputusin karena sang lelaki fokus dulu ke studi. It means he’s a good boy that thinks his future.

Namun, ini bukan jaman SMA lagi. Ini sudah masa di mana ‘kalau kamu punya cita-cita yang baik’ ya ayo direalisasikan bersama. Lha, kok malah minta putus?

Mungkin nih, cita-cita yang dikejarnya itu bukan kamu, tapi dia yang lain. *jleb*

3. Aku Tidak Mau Kamu Sakit Karena Aku.

Lho, bukannya sudah biasa ya aku sakit karena kamu? Sekarang kok kamu minta udahan. Kamu lupa ya apa nasihatku ke kamu tiap hari?

Ini bunyinya:
“Sayang, kamu jangan lupa makan ya, jaga kondisi biar gak sakit. Kan, kalau kamu sakit, jadi gak ada lagi yang nyakitin aku...”

Kamu harusnya senang, saat ‘penyebab kesakitanmu’ itu pamit pergi. Jangan malah ditangisi dan diratapi. Kamu cocok untuk yang lebih baik. PASTI.

Dan puncaknya, eng-ing-eng, setelah resmi putus, si ‘Pemutus Hubungan Sepihak’ justru dengan innocent bilang:

Tapi... kita masih bisa temenan, kan?

Ampun, Mas, ampun. Situ yang mulai dulu, situ juga yang mengakhiri, eh situ masih berani mewajibkan kami (yang tersakiti) untuk memaafkan situ dan ingin balik jadi teman lagi.

Sudahlah, tenang, kamu cukup bilang, “Iya...” Tapi, ini ‘iya’ yang terselubung. Karena survei membuktikan, hampir semua mantan tidak akan pernah saling sapa lagi setelah ‘hari pemutusan hubungan’, apalagi kembali jadi teman. It’s impossible I thought.

Jadi, itu tadi alasan-alasan basi untuk memutuskan suatu hubungan. Saran aja, kalau mau minta putus itu yang kreatif, misal: Sayang, maaf, aku dijodohkan sama anak pemilik kosan sama Mama. Atau, Sayang, maaf, aku baru mau serius sama kamu nanti di usia senja. Apa kamu bersedia?

Kalau alasannya kreatif kan jadinya anti-mainstream dan bisa dikenang. Semoga posting ini menjadi pedoman bagi para perempuan untuk segera move on apabila baru diputuskan oleh lelaki dengan alasan basi seperti di atas.

Ingat, penyebab kebahagiaanmu adalah kamu sendiri. And it takes a confident man to love a wonderful woman.

Jika masih ada pendapat lain yang out of the box, sangat boleh tinggalkan jejak di kolom komentar. Terima kasih!
(IPM)

Bandung, September 2014

2 comments:

ahmad kamil said...

sayang, aku minta putus sama kamu dong,
putus jadi pacar,
dan ayok berlanjut jadi istri, hahahaha
#ga menjawab

Idham P. Mahatma said...

Wah, kalau kasusnya seperti itu jadi beda lagi.
Hehe.

Post a Comment

Followers