September 19, 2014

Menurutmu, Mana yang paling Sedih?




Kalau kamu berharap hidupmu akan bahagia selamanya, berarti kamu sedang bermimpi untuk tinggal di surga. Dunia selalu menyajikan dua hal: suka dan duka, senyum dan murung, juga senang dan sedih.

Ada beberapa peristiwa sedih dalam cinta yang mungkin pernah mengisi harimu di belakang. Ada yang sedih, cukup sedih, atau teramat sedih. Sekarang, coba kamu simak untaian kejadian sedih mengenai percintaan berikut. Jangan lupa siapkan tisu ya!
 
1. Bringing back the feeling you’ve learned to forget.

Ungkapan di atas kalau dalam bahasa gaul mah artinya tidak bisa move on. Kamu berusaha melupakan segala hal tentangnya. Perihal makan malam berdua yang rutin kalian jalani untuk sekadar melepas penat di akhir minggu dulu. Atau, menunggu dia selesai kuliah di depan kelasnya sebelum pulang mengantarnya ke rumah.

Kamu rutin melakukan itu bergenap waktu. Lebih parah, sampai-sampai kamu menganggapnya ritual sehari-hari. Tanpa pamrih. Tanpa keluh kesah. Namun, kisah cinta yang diharapkan selamanya justru kandas begitu saja.

Berhari setelahnya, kamu ingin sekali melupakan memoria lama. Beragam cara kamu pilih. Dengan berburu hobi baru. Dengan jalan ke luar bersama teman-temanmu. Dengan membuka hati untuk seseorang yang sebelumnya tak pernah kau kenal. Katamu dalam angan, “Ini akan jadi pengganti dia.”

Akan tetapi, apa daya. Segala pertahananmu runtuh seketika saat dia kembali menyapa, “Hai, bagaimana kabarmu? Masih ingat aku?” Sayangnya, dia sudah menggamit pemilik lengan yang lain saat ini. Kamu pun bersedih.

2. Reminiscing the good times.

Katanya, apa pun hal terindah di dunia, akan terasa percuma apabila diawali frasa ‘pernah’. Misalnya, “Aku pernah menjalani hari-hari paling bahagia saat bersamamu,” atau, “Kamu pernah memberiku kado istimewa tepat di perayaan hari kelahiranku.”

Yang namanya kenangan, tampaknya lebih indah apabila dikenang sesekali saja. Tak perlu terlalu sering. Sebab hidupmu harus terus berjalan ke depan. Dan, tiada pengemudi hebat yang hanya menengok ke arah belakang. Kamu harus maju.

3. Trying to hide what you really feel.

Sudah lama kamu menyukainya. Sudah sangat lama. Sejak awal masa orientasi, hingga mendekati masa kelulusanmu rasa itu tak terganti. Kamu menghindari bertatap langsung dengannya. Alibimu satu: tak ingin dia tahu.

“Karena mata takkan bisa berkata dusta...”

Ironis. Semesta merestui segala inginmu. Dia tak pernah tahu ada kamu yang selalu mendoakannya di penghujung hari. Dia tak merasa jikalau ada kamu yang memperhatikannya di setiap helah waktu. Dia pun justru dengan biasa saja bercanda denganmu tanpa beda.

Aku tak pernah mengerti mengapa ada seseorang sepertimu, yang sanggup memendam rasa sebegitu lamanya. Saat kutanya alasannya, kamu pun terbata menjawab, “Mau bagaimana lagi, dia sahabatku. Aku tidak mau kehilangannya apabila aku menyatakan cinta padanya.”

Cinta kepada sahabat sendiri memang sedih. Untuk itu, kamu mulai percaya jika tak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang utuh. Suatu waktu, pasti ada saatnya salah satu menginginkan lebih, tetapi mengungkapkannya justru tak berani. Dan... hanya akan disimpan rapi, jauh di dalam hati.

4. Loving someone who loves another.

Dasar kamunya saja yang terlalu kepedean atau apa. Saat dia yang kamu suka memanggil namamu dengan benar untuk pertama kali, kamu senang bukan main. Bahkan, kamu selalu terngiang lembut senyum dari bibirnya. Begitu indah.

Lain hari, dia berkabar ingin mengobrol serius denganmu. Alih-alih mengagetkanmu untuk kedua kali, dia mengirim pesan singkat, “Kita ketemu di tempat favoritku ya, di Cafe Amour, jam 7 malam.”

Kaset film romantis di otakmu kau putar terus-menerus. Setelan baju terbaik kamu kenakan. Sesempurna mungkin kamu menyiapkan untuk malam paling spesial itu. Rasanya, mimpimu memang akan segera terwujud: memiliki dia yang kamu cinta.

Kalian duduk berhadapan. Kemuning cahaya temaram, kilat pemandangan lampu kota dari lantai tiga, hingga hangatnya seduhan cappuccino menambah suasana syahdu malam itu.

Kamu masih menunggu dia angkat bicara. Masih bersedekap sambil bertanya-tanya. Hingga dengan lirih dia perlahan berkata, “Aku suka sahabatmu. Bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengannya? Tolong bantu aku.”

5. Having a commitment with someone you know would not last.

Kalau tidak suka, ya jangan dipaksa, ujar rekanmu. Tapi, bagaimana lagi, sudah terlanjur sejauh ini. Hari pernikahan kalian pun hanya berselang beberapa hari. Namun, ketidakyakinanmu masih ada, semakin membuncah.

Sebenarnya, kamu tahu hubungan ini tidak akan lama. Tapi mau bagaimana, segalanya sudah terburu terjadi, sudah kepalang basah, sudah terlanjur adanya. Sebab tidak ingin malu, kamu pun melanjutkan itu.

Bagaimana rasanya menjalin komitmen dengan dia yang kamu tahu akan berakhir tidak lama? Sedih, jawabnya.

6. Shielding your heart to love somebody.

Jangan sampai aku suka padanya! Jangan!

Awal tumbuhnya rasa suka ialah dari telinga atau mata. Paling umum, yakni melalui curhatan. “Dia sekarang berubah. Sudah jarang berkabar lagi denganku. Bagaimana ya, tapi aku masih suka dia,” kata kekasih sahabatmu.

Dengan bijak, kamu membalas, “Sabar saja. Mungkin dia memang benar-benar sibuk. Yaudah, untuk menghiburmu, aku traktir makan aja ya. Aku punya rekomendasi tempat makan oke di puncak.”

Begitu seterusnya. Dia mengeluh kepadamu perihal kekasihnya, yang tidak lain adalah sahabatmu sendiri, dan kamu mau-tidak-mau akan memberinya wejangan agar masalahnya merupa jernih.

Lambat laun, timbul rasa berbeda. Dari kangen, mewujud rindu, merupa candu untuk terus bertemu. Namun, statusnya yang masih kekasih sahabatmu tidak bisa membuatmu melakukan apa-apa. Hanya diam, dan menunggu.

Kamu pun terus mengulang kalimat itu: Jangan sampai aku suka padanya! Jangan!

7. Loving a person too much.

Jangan memberi seluruh hatimu ketika tengah jatuh cinta, katanya. Coba kau sisihkan sedikit untukmu. Agar saat dia memberi kecewa, tidak habis hatimu terenggut olehnya.

Apa pun yang berlebihan tidak akan terasa baik. Bahkan, dalam konteks mencintai seseorang. Kisah cinta yang sempurna bisa saja retak. Kekasih yang kamu sayangi bisa saja pergi. Tiada yang abadi.

Saat kamu memberikan semuanya, bersiaplah untuk kemungkinan terburuk saat dia tiada. Kamu harus bisa berpikir mana yang baik untukmu, mana yang tidak. Ketika dia yang teramat kamu cintai tiada, kamu yang seakan tidak bisa mencari penggantinya akan terus-menerus meratapi.

Adakah yang lebih sedih dari terlalu mencintai dia yang telah jauh pergi?

8. Right love at the wrong time.

Kamu menemukan bagian puzzle hatimu yang telah lama hilang. Segala yang kurang darimu selalu ada dia yang melengkapi. Dia bagaikan peri yang melukis senyummu kala kamu bersedih.

Kamu pun merasa dialah orang yang paling cocok untukmu menghabiskan sisa hidup berdua. Namun, anganmu itu terbentur oleh ikhwal pernikahan yang lebih dulu kamu ikrarkan. Ya, kamu telah memiliki pasangan resmi. Jemarimu telah tersematkan cincin simbolis bahwa tak boleh jatuh cinta lagi.

Tidak ada yang paling sedih daripada cinta tidak tepat waktu. Oh, mengapa hidup bisa serumit ini?

9. Taking risk to fall in love again.

Kalau kamu menyukai seorang lain ketika kamu telah memiliki kekasih, maka pilihlah seorang lain itu. Bohong jikalau kamu mencintai kekasihmu, sedangkan kamu masih bisa menyukai yang lain.

Jatuh cinta lagi saat semuanya sudah tidak mungkin memang sedih. Namun, apa boleh buat, kamu harus memilih. Tentu tidak bisa keduanya. Tidak ada seorang pun yang rela dijadikan yang kedua.

Saat kamu memilih setia, you’re a gentleman. Saat kamu memilih pergi untuk mencari yang kamu ingini, you’re a kid. Cause a gentleman loves a commitment.

Itu tadi sembilan hal paling sedih yang tidak ada seorang pun berharap menjalani. Namun, roda kehidupan berputar tak kenal arah. Terkadang yang kamu hindari justru datang. Sementara yang kamu nanti, boleh jadi tak pernah kembali.

Sekarang, coba kamu pilih, mana hal di atas yang menurutmu paling sedih? Semoga tidak akan mengalami... lagi.
(IPM)

Bandung, September 2014

__
Apabila ada masukan, atau minta pendapat mengenai tulisanmu, sila hubungi penulis di:
akun twitter: @idhampm atau e-mail: idham.mahatma@gmail.com

0 comments:

Post a Comment

Followers