September 23, 2014

Sehari Berguru ke BCA




Tepatnya bulan April lalu, di kampus saya, ITB, mengadakan kerjasama dengan perusahaan Bank Central Asia (BCA) terkait pelatihan softskills. Tertarik melihat publikasi lewat poster di setiap mading, saya pun mendaftar. Kuotanya tidak banyak, hanya seratus kursi, dibandingkan total mahasiswa ITB yang berjumlah 15 ribu. Beruntung, saya memperoleh kesempatan itu.
 
Entah mengapa, setiap mengikuti seminar atau workshop, selalu saja saya membidik kursi terdepan. Jika tidak dapat, saya akan duduk di dekat microphone yang telah disediakan panitia. Apa alasannya? Sebab saya ingin menjadi pelaku sejarah, bukan sekadar pengamat.

Saat kamu men-challenge dirimu untuk berbicara di depan publik, maka kamu memperoleh kesempatan menjadi seorang public speaker. Bagaimana bentuk salam pembuka, gestur, intonasi, hingga konten pertanyaanmu sendiri akan merupa sejarah. Jika unik, namamu akan melekat, baik di telinga para peserta, maupun narasumber sendiri.

Apa dampaknya? Beragam. Saat kamu mulai dikenal, maka kesempatan akan terus datang kepada kamu. Saya beri contoh, waktu itu saya melempar pertanyaan standar, akan tetapi saya memberi awalan quote dari sebuah buku terkenal. Narasumber pun terkejut. “Wah, hebat juga kamu, sudah baca buku itu. Saya juga sudah baca dan banyak pelajaran dari sana,” tuturnya, dilanjutkan, “Mungkin suatu saat kamu cocok berada di depan (panggung) untuk berbicara.” Sebagian peserta bertepuk tangan.

Dalam hati, saya memiliki keinginan untuk tampil di depan umum, berbicara dan berbagi pengalaman suatu saat nanti. Saya ingin sekali.

Berselang lima bulan, keinginan saya terjawab. Pagi hari, belum genap pukul 08.00, Bapak Sandro, Sekretaris Bid. Kesejahteraan dan Pengembangan Karakter LK – ITB menghubungi saya lewat pesan elektronik. Intinya, meminta saya berbicara di depan publik. Namun, konteksnya bukan sebagai narasumber, melainkan MC dan moderator untuk acara training Leadership Through Action dari BCA.

Tidak mengapa, Tuhan mengijabah keinginan saya.

Tanpa pikir panjang, saya langsung bersedia. Dan... setelah itu, saya justru khawatir dengan kapabilitas diri sendiri. Pertanyaan seperti: Mampu tidak ya memandu acara sebesar itu? Mampu tidak ya berbicara secara luwes di depan ratusan hadirin? Mampu tidak ya? Mampu tidak ya?

Tanda tanya itu hanya bisa dijawab dengan persiapan yang matang. Setelah pihak BCA menghubungi, saya pun mengejar untuk dilakukan briefing sejelas-jelasnya. Bagaimana rundown acara? Siapa pembicaranya? Siapa peserta pelatihannya? Bagaimana kondisi tempatnya? Juga bahan pertanyaan lain yang lebih mirip cerewet dibanding kritis. Itu semua semata untuk merealisasi kalimat: victory loves preparation.

Sepulang briefing, perpustakaan pusat menjadi wahana bersemedi bagi saya. Berbekal laptop dan akun AI3, segala hal mengenai pembicara saya ulik. Bahasa gaulnya mah kepo akut. Saya memulai dengan googling siapa dia, jabatannya apa, pernah melakukan apa saja, lulusan mana, apa moto hidupnya, hingga bagaimana potret wajahnya. Semua dicatat, tentu baru coret-coretan. Namun, sesampai di indekost, hal-hal penting tadi disalin secara sistematis.

Well, saya siap!

Esok hari, datang lebih pagi dibanding jadwal, saya dengan setelan necis langsung menyapa pegawai CSR BCA yang sudah datang. Persiapan lagi, briefing lagi. Mungkin, etos kerja ini yang saya apresiasi dari pegawai BCA. Mereka itu punya standar tinggi. Dan, itu barang tentu bagus untuk sebuah perusahaan.

Tak beberapa lama, para pembicara datang. Mas Angga yang pertama, bagian International Banking BCA, disusul Mbak Marvida, bagian Sentra Bisnis Komersial BCA Bandung, serta Ibu Inge, sekretaris perusahaan BCA. Kopi darat pun saya awali. Singkat cerita, acara tersebut dimulai.

Selama acara, baik sesi talkshow dan training selalu saya awali dengan cerita dan diakhiri dengan leadership quote. Hal ini tidak lain agar peserta menjadi semakin tertarik. Maklum, acara ini hampir seharian penuh sehingga flow dan minat peserta harus tetap dijaga.

Bla. Bla. Bla. Bla. (Bagian ini merupakan pelajaran yang dapat diambil dari acara training ini. Namun, saya tidak akan membahasnya sekarang. Sabar ya!).

Finally, acara ditutup oleh Pak Sandro dengan mengucap syukur. Namun, ada agenda satu lagi: mengumumkan 10 pemenang lomba menulis esai yang hadiahnya “Meet and greet with CEO BCA, Jahja Setiaatmadja, di Jakarta.”



Dan... semua terkejut saat nama saya berada di antara 10 pemenang tersebut. Semua tidak tahu jikalau saya juga peserta pelatihan itu. Bukan sekadar MC dan moderator, saya pun mengikuti lomba menulis itu. Lengkap sudah hari termanis ini. Memperoleh link baru di dunia perbankan, bertemu orang-orang hebat di bidangnya, serta mendapat grand-prize ke Jakarta bertemu CEO BCA sekelas Bapak Jahja.

Alhamdulillah...

Tulisan ini dibuat bukan bermaksud menggurui dan memamerkan keberhasilan. Lebih dalam, posting ini ditulis dengan penuh kerendahan hati. Penulis hanya seorang mahasiswa tingkat akhir yang banyak kekurangan. Tapi poinnya, saya ingin menggaristebalkan satu: bermimpilah, tapi pastikan tindakanmu adalah benar-benar nyata.

Salam berkarya!
(IPM)

Bandung, September 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers