October 06, 2014

Nostalgia Masa Putih-Merah





Kalau masa putih abu-abu sudah terlalu ‘biasa’ untuk dibicarakan, mari sejenak kita menoleh lebih dalam. Yuk sebentar saja berbalik ke belasan tahun lalu, tepatnya di jaman putih-merah, alias waktu Sekolah Dasar (SD).

Kala itu, sepertinya tak banyak kenangan yang tersimpan. Masing-masing dari kita masih ‘polos’, belum ‘terwarnai’ oleh hal macam-macam. Sebelum jam 7 pagi sudah bersiap di kelas tanpa ada rasa malas, menyiapkan PR di malam hari, serta tak ada kata ‘bosan’ dalam 6 tahun menjalani.
 
Kembali ke masa SD, aku justru teringat cuplikan salah satu dialog di film 5 cm. Begini bunyinya:
Dosen          : Kamu SD berapa tahun?
Igor Saykoji  : Enam tahun, Pak.
Dosen          : Kalau kamu selesaikan kuliah juga dalam waktu enam tahun, berarti kamu sama kayak anak SD.
*jleb *jleb *superjleb

Back to topic, ada perbedaan signifikan antara anak SD jaman sekarang dengan dahulu. Hmm, simple-nya, dulu mah anak SD suka bangga kalau punya sepatu yang bisa nyala merk Pro-ATT, tas yang bisa digeret ke sana ke mari layaknya koper, atau tumpukan tazos dari jajanan chiki-chikian. Namun, hal itu sudah tidak ‘booming’ lagi. Anak SD sekarang akan terlihat kece kalau bawa ipad, iphone, tablet, dan segala gadget canggih lainnya.


Miris, kan? Jaman sudah berubah, Bung!

Mainan mereka saat istirahat pun juga sudah jauh berganti. Mungkin, yang SD-nya di tengah kota cosmopolitan atau metropolitan, amat jarang ditemukan yang kalau jam istirahat tiba mereka berlarian rebutan main benteng-bentengan, pinpong, engklek, atau gobak sodor (go back to door).

Yang gak tahu mainan apa itu, sini aku beri deskripsi singkat:
Benteng-bentengan

Kalau main ini yang teringat hanya satu: rusuh! Saat main, pasti ada aja yang teriak-teriak, minta tolong dibebaskan saat jadi sandera di benteng lawan, dan... paling benci saat ada teriakan: Benteng! Bisa numbuhin sportivitas, kelantangan bersuara, dan kebersamaan.

Main Pingpong

Sampai-sampai gak pulang gegara main pingpong. Lupa belajar, istirahat isinya cuma nunggu waiting list. Jadi jawara main pingpong bagi anak SD adalah keren. Padahal kalau sekarang... itu mah STANDART, alias BIYASA.

Engklek

Lompat-lompat mirip ‘pocong’ tapi dengan satu kaki. Biasanya digambar pakai kapur dulu untuk lintasannya. Keseruan main ini mah pas ada teman yang jatuh atau lompatnya failed. Pasti ketawanya gak ketulungan. Benefit: anak SD yang suka main engklek dijamin punya keseimbangan tubuh yang oke. Meskipun gak seberapa ngaruh juga untuk kehidupan ke depannya.

Gobak Sodor

Coba googling dengan keyword: go back to door kalau ingin tahu itu mainnya gimana. Susah menjelaskan, lebih mudah melakukan. *alibi malas nulis*

“Ah, main kayak gitu bisa bikin keringetan. Ga asik ah,” kata mereka.

Anak SD jaman sekarang akan lebih sering nangkring di pojokan. Lagi-lagi cuma buka gadget buat main game online di Facebook, LINE, atau yang sudah ter-installed di iOS/android/windows-phone mereka. Ya, mungkin itu sebabnya anak SD jaman sekarang banyak yang mager. Lha, jam istirahatnya habis buat nongkrong doang sih, gak gerak.

Namun, ada beberapa hal yang tidak berubah dan masih terus dilakukan oleh anak-anak SD hingga sekarang. Apa itu? Coba disimak!

Olok-olokan Nama Ortu

Entah siapa penemunya, aku kurang tahu. Mungkin dulu ada anak dari pegawai Tata Usaha (TU) yang pegang seluruh nama wali murid punya dendam sama seorang temannya, lalu dia mengolok nama orang tua anak tersebut. Karena anak SD terkenal latah, maka semua ikut-ikutan dan jadilah... trending topic world wide area SD.

Aku pikir cuma di jamanku saja tradisi ini ada. Akan tetapi, di jaman adikku hal tersebut masih exist dan semakin canggih mengoloknya. Tidak hanya di kelas, di group FB, LINE, WA, semua medsos pun penuh dengan bully-an olok-olokan nama ortu khas anak SD. Salut untuk para pengkadernya, sebab penurunan nilainya maksimal.

Kejujuran Anak SD

Anak SD itu jujur, apalagi yang laki. Mereka tidak sembarang pilih anak perempuan untuk dijahilin sampai nangis. Jahilnya itu ya mulai dari nyembunyiin barang-barangnya, dijambak rambutnya kalau lagi dikepang dua, sampai diledekin atau apa. Misalnya: halo, gendut!

Namun, di dalam kejahilan itu semua, terdapat fakta mengejutkan. Apa itu? Berdasarkan survei, anak lelaki SD yang jahil tadi, cuma ngejahilin anak perempuan yang dia suka.

Mereka begitu jujur dan langsung, tanpa kode-kodean seperti kita sekarang. Kalau suka, ya ditunjukkan rasa sukanya, meski dengan ngejahilin sampai nangis. Kalau kita sekarang, kalau suka, kok malah diam-diam saja, giliran kasih kode, eh yang dikode gak nangkep sama sekali. Jadilah kode-zone.

Well, bulan puasa kemarin, teman-teman SD-ku menggelar reuni akbar. Cukup sukses, karena dari 120-an orang yang diundang, 80-an hadir di tempat. Mereka yang dulu unyu-unyu capricorn sekarang sudah tumbuh jadi dewasa.

Saking bermacam-macamnya, sampai aku kategorikan. Ada yang kategori mengejar studi dulu baru bekerja, ada pula yang sebaliknya, sudah bisa menghasilkan uang dari memeras keringat. Tapi, itu masih mainstream. Sebab, beberapa teman SD-ku dulu, kini sudah ada yang menggendong buah hati hasil pernikahan mereka. Beh, buru-buru amat ya, gak sabar.

Mungkin, beberapa poin di atas akan mengantarkan kamu kembali bernostalgia ke jaman putih-merah. Finally, penulis tidak bisa memasukkan semua konten yang berhubungan. Apabila ada tambahan, silakan mengisi jejak di kolom komentar. Terima kasih!
(IPM)

Bandung, Oktober 2014


2 comments:

bella citra Dinasti said...

Bullying sekarang lebih parah, kurikullumnya sadis, tv tontonan ga seenak dulu, bersyukurlah anak 90 an :))

Idham P. Mahatma said...

Sangat setuju, bersyukurlah anak 90-an.
Hehe :)

Post a Comment

Followers