November 05, 2014

Cerita Ketika Baru Putus Cinta




“Pacaran itu putusnya bisa dua: jadi manten, atau jadi mantan...”

Layaknya sepasang merpati, kamu dan dia hampir tak pernah terpisahkan. Ke mana pun selalu berdua. Nempel kayak perangko. Rekan kalian juga menyaksi hal yang sama. “Ini nih contoh pasangan yang hebat. Tak pernah bertengkar, selalu akur-akur saja,” katanya.

Namun, selang bergenap tahun lamanya menjalani, biduk hubungan yang seperti akan berlangsung selamanya akhirnya pun kandas. Entah apa sebab pastinya, kalimat ‘putus’ berhasil meruakkan elegi di suka cita sepanjang hari.

Status ‘kita’ berubah menjadi ‘aku’ dan ‘kamu’, yang tak lagi berjalan beriringan bersama. Kamu pun bersedih, dan itu pasti. Namun, masih ada beberapa hal yang (mau-tak-mau) harus kamu alami ketika kamu baru saja putus cinta. Apa saja? Silahkeun dibaca.

1. Butuh Waktu untuk Terbiasa

Coba bayangin, mereka yang pacarannya cuma beberapa bulan saja pasti punya semacam kegiatan yang sengaja dilakuinnya bersama. Misalkan, makan malam bersama waktu weekend, nonton film berdua di bioskop saat ada premiere, atau justru berangkat ke kampus bareng karena memang sekampus, atau bahkan sekelas.

Nah, setelah putus, momen-momen ‘berdua’ tadi akan berubah jadi momen-momen ‘sendiri’. Pas weekend datang, biasanya keluar, sekarang guling-guling gak jelas di kasur kosan sambil berdoa agar hujan. Saat ada film baru rilis, biasanya langsung kontak untuk cari tiket nonton, sekarang hanya cari bajakannya di situs 4shared. Atau, yang biasanya dulu kalau mau berangkat ngampus antusias banget karena ada yang dijemput, sekarang mah ya langsung aja meluncur menuju kampus dengan jok belakang motor kosong melompong.

Uhh, sedih bingits ya? Tak apa. Pada akhirnya, waktu akan mengajarkan kamu bagaimana segala sesuatu akan membiasa, tanpa embel-embel terus terluka.

2. Mengulang Penjelasan ke Banyak Orang

Ini salah satu hal paling annoying yang akan kamu alami saat baru putus cinta. Apalagi kalau setiap ketemu teman, lalu disambut dengan sapaan, “Lho, kok sendirian? Mbak-nya mana sekarang?”

Udah, cuekin saja yang seperti itu, bikin makin makan ati. Namun, ada juga yang dengan sopan bertanya ke kamu, “Jadi kalian putus? Kok bisa? Putusnya gimana? Ayo cerita!” Dan... kamu pun (dengan terpaksa) harus menceritakan segalanya ke dia. Dongeng darimu tadi, biasanya akan ditutup dengan ekspresi darinya, “Wah, yang sabar aja ya. Puk-puk-puk.” Lumayan, seenggaknya ada yang puk-puk-in.

Tak berhenti di situ, temanmu itu tak hanya satu. Kadang yang bertanya ‘mengapa putus’ tidak manusiawi jumlahnya. Belum lagi ditambah para kepo-ers, jadi makin banyak dah. Ekstremnya, hampir seminggu jadwalmu, terpakai hanya untuk nyeritain kenapa kamu putus.

Saran, biar efektif dan efisien, mending bikin tuh press conference. Sewa itu aula kampus barang sehari, undang teman-temanmu, juga teman-teman mantanmu, lalu kalian ceritain ke mereka kenapa kalian putus. Dijamin deh, gak bakal ada yang nanya-nanya lagi. Gimana, solutif kan? Monggo dicoba.

3. Jadi Malas Buka Medsos

Dulu saat kamu dan dia masih bersama kayaknya rajin banget tuh nongol di timeline twitter saban hari. Entah mention-mentionan perihal topik penting, atau sekadar menyapa, "@princesscantik Halo, Bebs. Gy aps?" Uhh, norak maksimal emang dua orang yang lagi cinta-cintanya mah.

Sekarang... beh, jadi males. Boro-boro mau nyapa, liat dia ada di TL saja kamu sudah merasakan serba salah. Pengen nge-mention takut dikira tak bisa move on, eh dibiarin kok sayang juga.

Itu tapi masih yang baik-baik putusnya. Kalau yang berantem sampai gebuk-gebukan, bisa-bisa seluruh akun medsos mantan akan di-block. Facebook di-unfriend. Twitter di-unfollow. LINE di-remove. Whatsapp di-delcont. Hmm, apalagi yang kuliahnya sekelas, mungkin juga kamu bakal ke TU jurusan guna mengurus PRS pindah kelas. Sampai segitunya ya...

4. Hey Stranger!

Pacar kamu yang unyu-unyu itu, yang kamu dulu pedekate-in berbulan-bulan, yang kamu anter tiap hari pulang, dan yang paling kamu kenal, saat dia jadi mantan... udah deh, tetiba berubah jadi ‘stranger’, alias orang asing.

Padahal, dulu sayang-sayangan sampai tidak tidur. Padahal, dulu nge-chat sampai habis kuota. Padahal, dulu manggilnya Papa-Mama. Eh, sekarang saat ketemu malah nanya, “Maaf, kamu siapa ya?” Mungkin, ini efek penghayatan dari lagu ‘Lumpuhkan Ingatanku’ yang selalu kamu putar di telinga. Aneh ya? Tapi, begitulah kenyataannya.

5. Makna Sahabat Sejati

Kalau kamu sudah muak dengan segala persoalan hidupmu, biasanya kamu akan kembali ke para sahabatmu. Iya, sahabat, yang dulu saat kamu jadian sama dia, kamu jadikan mereka prioritas kedua, atau bahkan dilupakan.

Namun, kini harimu akan lebih banyak diisi dengan tertawa bersama mereka. Ya, setidaknya kamu bisa melupakan sedikit demi sedikit kenangan dan kebiasaan dengan dia dahulu. Well, you feel you’re lucky having them.

6. Skenario Penyesalan

“Putus cinta memang sedih. Lebih sedih lagi itu putus, tapi masih cinta.”

Ampun, Mang, kagak kuat! Ini kalimat yang jleb dan frontal. Semacam transliterasi dari lagu ‘When I Was Your Man’-nya Bruno Mars. Pengen banget sepertinya kamu kembali merajut kasih. (Baca: balikan). Namun, apa daya, kamu gengsi karena kamu justru yang mutusin dia.

Kamu pun merasa bodoh sebab menyia-nyiakannya kala dulu masih bersama. Dan, mungkin juga kamu belum sempat meminta maaf di pertemuan terakhir kalian. But, everything is gonna be okay. Kamu bisa mengubah penyesalanmu merupa pelajaran hidup mengenai hubungan. Ya, agar tidak jatuh di lubang yang sama. Sejenak, kamu merasakan ada semangat hidup, meski tak bisa bersamanya lagi.

7. Belahan Jiwa yang Digariskan Tuhan Untukmu

Pada akhirnya, untuk setiap pasangan yang akhirnya berpisah, akan ada satu kalimat yang paling pas didengarkan sebagai nasihat: Terkadang, Tuhan sengaja mempertemukan kita dengan orang yang salah, sebelum mempertemukan dengan orang yang benar, tak lain agar kita siap.

Semoga putus cintamu menjadikan kamu lebih dewasa. Semoga putus cintamu mengubah pandangan bahwa hubungan memang harus diperjuangkan. Dan, semoga putus cintamu tak membuat kamu trauma untuk jatuh cinta.

Obat paling mujarab untuk mereka yang patah hati adalah... dengan jatuh cinta lagi. Well, semoga kamu cepat bertemu dengan belahan jiwa yang digariskan oleh Tuhan, bukan dia yang mengecewakan.

Ini tulisan untuk kamu yang baru, sedang, atau akan putus cinta. Dua frasa: semangat ya!

Terima kasih, salam.
(IPM)

Bandung, November 2014

__
Apabila ada masukan, atau minta pendapat mengenai tulisanmu, sila hubungi penulis di akun twitter: @idhampm atau e-mail: idham.mahatma@gmail.com


2 comments:

Iqbal Pratama Abdi Zay said...

mantap dham tulisannya (y)

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Bro Iqbal, atas jejaknya di sketsastra.
Hmm, semoga tulisannya semakin mantap dari hari ke hari dah :D

Post a Comment

Followers