December 25, 2014

Mau Sampai Kapan?



Bila kau sanggup untuk melupakan dia,
biarkan aku hadir dan menata ruang hati yang telah tertutup lama.

Masih pagi. Matahari pun masih menguap malas ketika hendak bersinar. Namun, gerutu Kota D akan kemacetan sudah menguak barang sejengkal. Ya, kota ini selalu padat saat pagi dan sore, bersaing dengan ibukota negara.
 
Mungkin kamu tengah terlelap dalam kamar gelap di jam yang sama. Tirai penutup jendelamu tidak terbuka, pertanda penghuninya belum bermata. Entah sebab kamu terlalu lelah di hari sebelumnya, atau kamu bermimpi terlalu indah, aku tak tahu. Akan tetapi, malam hari sebelum kamu pulas, kuingat obrolan kita mengambang, menuju topik yang enggan dijamah.

Apa itu? Harapan.

Harapan, atau juga keinginan tak selalu harus dibagi kepada tiap orang, kecuali untuk mereka yang kamu percayai. Kalau denganku, bagaimana? Kau terdiam sejenak, lantas menyerngitkan dahi, meragu.

Aku membaca bagaimana gesture yang kamu bangun tanpa sadar. Rasa bimbangmu. Rasamu memberi jarak. Rasamu enggan berbagi lebih dalam.

Kurasa, aku hanyalah orang kemarin sore yang belum pantas kamu curahi segalanya. Cuma rekan minum kopi kala gerimis datang, sehingga untuk menghangatkan suhu tubuh maka aku mengajakmu berteduh barang sebentar. Dan, lebih jauh lagi, aku masih belum menjadi ‘the one’ yang kamu cari... selepas darinya.

Dia, yang ada dalam anganmu akan mengisi sisa hidup berdua. Dia, yang mewujud lelaki pencemburu ketika kamu digoda oleh lain pria. Dia, yang justru menguap ketika kau berada dalam taraf ‘secinta-cintanya’.

Kau masih bersedih? Masih pula kau menutup pintu hati?

Ah, mana sanggup aku menanyakan itu di depanmu. Mana kuasa aku melempar tanya yang aku sendiri sudah tahu apa jawabnya. Tenang, aku tak sebodoh itu merusak sebuah kedekatan.

Karena, setelah pertanyaan retoris tadi, kamu mungkin, atau sudah pasti akan menjauh. Bahkan, skenario terburuk dalam otakku berkata jikalau kamu tak mau lagi bertemu, benci.

Sudah, pergi sana! Jangan campuri lagi urusanku! Seperti itu kira-kira hardik seorang wanita kepada seorang lelaki yang menanyakan hal bodoh dalam hidupnya. Aku menemukan petikan itu di novel. Barangkali, di kehidupan nyata akan lebih hebat lagi umpatannya.

Past is a nice place to visit, but certainly not a good place to stay, isn’t it?

Sayangnya, kamu tak pernah tahu apa sejatinya makna kalimat itu. Kamu masih saja mengenang sosoknya kemarin, hari ini, minggu depan, dan berikutnya, dan berikutnya. Sering pula, kamu membayangkan dia akan berbalik, menatapmu, kembali memujamu seperti kala kalian masih bersama.

Ironi, itu hanya ilusi. Maka untukmu, aku ada pertanyaan: mau sampai kapan? Oh, renungkan saja, tak apa.

Kau, jika kau masih ragu untuk menerima,
biarkan hati kecilmu bicara, karena kuyakin ‘kan datangnya saatnya.
(IPM)

Bandung, Desember 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers