June 02, 2015

Sesederhana Kalimat Salam





Seseorang yang tengah jatuh cinta itu sederhana...

Malam tadi dia mungkin tengah menyaksi televisi. Atau, dia sedang asyik membolak-balikkan buku karya penulis muda yang dikagumi. Sembari memakan camilan, entah roti atau sekadar jajanan murah pinggir jalan, dia menikmati waktu redupnya langit dengan penuh kesyukuran.

Halaman buku itu masih menyisakan banyak lembaran. Ya, dia baru saja memulainya. Sebab, beberapa minggu lalu, aku amat tahu jikalau harinya terlampau padat. Bahkan, nyaris tanpa spasi. Oh ya, aku tahu bukan dari bibirnya, bukan dari pesan singkatnya juga kala mengabarkan, melainkan aku hanya menebak. Dan, tebakan itu benar adanya saat aku menanyakan kabarnya malam tadi.

“Halo, bagaimana kabarmu? Kapan balik ke Kota L?” tanyaku, yang akhirnya memilih mengirim kalimat itu sebab bimbang memulai dari mana.

Entahlah, selalu seperti ini kala aku bertatap dengannya. Aku yang dominan, mendadak mati gaya. Aku yang ingin menguasai pembicaraan, tetiba saja diam serta bungkam. Aku yang akan memilih topik untuk dibahas, sesaat menjadi mengalir seperti air.

Aku kehilangan diriku saat di dekatnya.

Dan, dia tentu akan berpura tidak tahu, atau memang tidak tahu jikalau aku menganggapnya spesial. Berbeda. Tak seperti yang lain. Tidak disamakan dengan yang lain.

Dia akan membalas setiap tanyaku dengan jawaban khasnya: singkat, banyak salah eja, dan terkadang arahnya entah ke mana. Namun... aneh sekali, aku selalu memaklumi. Inikah yang dimaksud menerima? Inikah yang disebut memahami?

Obrolan singkat lewat medsos tadi hanya berlangsung singkat. Aku yang mengakhirinya, bukan dia. Bukan karena aku bosan, tidak, tidak sama sekali. Mana mungkin berbincang dengan orang yang ditunggu-tunggu akan meruak menjemukan. Hanya saja, aku tak mau mengganggu waktunya menikmati malam. Maka, segera kuucapkan kalimat pengakhiran.

“Semoga sukses ya, selamat malam...” tutupku.

Akan tetapi, aku masih tidak beranjak dari menatap layar telpon selular. Aku masih mengharapkan sesuatu kembali terjadi. Barang 30 detik, semenit, bahkan dua menit, layar itu kian gelap tak menunjukkan tanda-tanda.

“Ah, sudahlah. Mungkin dia memang tengah menikmati harinya,” sergahku, dengan perasaan kecewa.

Ting-tong!

“Iya, aamiin, selamat malam juga,” balasnya.

Kalimat itu pendek, terlampau singkat. Namun, aku teramat menunggu, sembari berharap-harap respon ‘selamat malam juga’ darinya. Saat pesan itu sampai, seketika lega seluruh rasaku, dan... tanpa disadari senyumku mengembang tak kenal waktu.

Terima kasih, kamu.

Seseorang yang tengah jatuh cinta itu sederhana. Cukup menerima balasan ‘selamat malam’ darinya saja, ia langsung berbahagia.
(IPM)

Bandung, Desember 2014

10 comments:

kaRtiKa tRianiTa said...

Dan kalo ga dibalas2, galaunya minta ampun. Mulai spekulasi macem2. haghag

Idham P. Mahatma said...

Aku tahu gimana rasanya, Tika. Hehe :D
Kalau tidak dibales, berarti bertepuk sebelah tangan. Titik.

Anonymous said...

Idhaaam ini baguus. Aku juga baru tau dari pacarku kalo dia makin pede ngedeketin aku setelah aku ngucapin "selamat malam, tidur yang nyenyak ya" ke dia. Ternyata ucapan kayak gitu bisa seberarti itu ya :")

Idham P. Mahatma said...

Wah, sayang banget pakai anonim.
Hmm, padahal mau kasih terima kasih karena sudah apresiasi dan meninggalkan jejak.
Oh, memang seperti itu kalau lelaki lagi jatuh cinta, menunggu sinyal, apakah sejalan, atau bertepuk sebelah tangan :D

Anonymous said...

Waaaaaah dham aku juga suka dikira ngasih perhatian lebih gara2 bales sms kaya gitu, terus ujung-ujungnya dikatain php. Sampe2 pacarku juga bilang gitu haha

Idham P. Mahatma said...

Ternyata, banyak yang senasib ya dengan postingan ini.
Hehe :D

noorgam ika rachmawati said...

Tulisanmu bagus-bagus dhamex :D
Aku suka bacanya

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Noorgam.
Wah, sudah 7 tahun ya tidak bertemu. Selamat membaca! :D

Anonymous said...

Dham, kisahnya sama kayak gue dham, kalau kondisinya kayak gitu terus, tidak ada kejelasan dan dia ngerespon gitu2 aja walau deket, kira2 mau bertahan sampai kapan dham ? Kira2 parameter untuk terus maju meperjuangkan atau mundur apa yaa dham ?

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous

Sampai kapan bertahan? Sampai kamu mengerti tanda dari Tuhan bahwa dia bukan untukmu.
Namun, sebelum itu, kamu harus berusaha dulu.
Berikan yang terbaik, bila setelahnya tetap tidak dapat, berarti bukan dia.
Semangat :)

Post a Comment

Followers