January 06, 2015

Bagaimana Mencintai Orang yang Tidak Mencintaimu?



 
Sudah baca judul di atas? Hmm, hari ini kita akan membahas tema yang syahdu, sendu, dan ironis: mencintai orang yang tidak mencintaimu. Yak, lumayan ada bahan nih untuk menulis tema ini. Dari teman, rekan nge-lab, sahabat, dan pastinya, diri sendiri.
 
Okay, kita harus sepakat bahwa kehidupan nyata berbeda sekali dengan kisah FTV di siang atau malam hari yang kadang kamu tonton. Biasanya, film berdurasi dua jam lebih sedikit itu (kok yang nulis hapal ya) berkisah tentang dua orang remaja, tak peduli awalnya saling benci atau tidak suka, tetapi berakhir dengan saling mencinta.

Eits, hidup tak semudah teks naskah FTV, Broh. Hidup kadang punya warnanya tersendiri. Tak selalu merah apabila diinginkan merah, terkadang malah dapatnya hijau, kuning, atau pula abu-abu. Artinya, realita tak selalu seperti keinginan kita.

“Dham, opening-nya udahan lah, ayo ke isi sekarang, enggak sabar!”

Hehe, maaf-maaf, yak sekarang kita masuk ke inti bahasan kita. Eng-ing-eng, silakan disimak!

Oh ya, seperti biasa, tulisan ini tidak melulu dari pemikiran pribadi penulis, faktor luar juga dimasukkan, misalnya: lirik lagu, buku-buku remaja popular, perkataan motivator, juga scene sebuah film. Jadi, penulis hanya merangkumkan, bukan orang yang sangat bijak seperti tulisannya. Hehe.

 Sip, let’s get the ball rolling...

Sebagai awalan, aku ada pertanyaan: Bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak mencintaimu? Ayo, monggo dijawab. Nebak aja nih, pasti jawabannya: FRUSTASI. Benar, kan?

Mengapa bisa frustasi? Hal ini bisa dijelaskan oleh pengertian cinta itu sendiri. Yak, ada beberapa pengertian cinta yang kita harus se-frame dalam hal ini. Apa saja?

1. Cinta itu perhatian

Ini sepertinya sudah teramat jelas. Kalau dia yang kamu cintai tidak balik memperhatikanmu, berarti dia tidak cinta kamu. Akan tetapi, biasanya ada yang menyangga, “Tapi kan dia lagi sibuk, Dham?” Iya, dia lagi sibuk, sibuk dengan yang lain. Hehe.

2. Cinta itu satu ruangan

Kukutip dari MTGW. Apa maksudnya? Hmm, iya, cinta itu diibaratkan satu ruangan untuk dua jiwa. Kalau dia tidak mencintaimu, berarti dia ada di luar ruangan, sementara kamu di ruangan yang lain. Kepentinganmu bukanlah kepentingannya, dan urusannya bukanlah urusanmu. Jelas ya maksudnya? *manggut-manggut*

3. Cinta itu pencemburu

Ya bayangin aja, dia yang tidak mencintaimu akan bergaul di luar ‘areamu’ sehingga kamu cemburu. Biasanya, kamu akan mencemburuinya dengan berbagai sebab. “Kenapa sih kamu lebih mentingin teman-temanmu?” misalnya gitu. Atau, “Kamu kok jalan sama lelaki itu...” ini lebih ngenes. Iya, kalau dia mencintaimu, dia tidak akan melakukan hal yang akan membuatmu cemburu. Namun, realitanya kan dia tidak mencintaimu. Hehe.

Gimana? Sudah cukup frustasi? Ya gitu tuh kalau mencintai orang yang tidak mencintaimu.

Next Chapter: Lalu, apa efeknya?


Kamu bakal tidak punya masa depan dengannya. Kok bisa gitu? Iya, coba renungkan, dia saja tidak bisa membayangkan kamu ada di masa depannya. Nah, kamu pasti juga (mau-tak-mau) bakal merasakan hal yang sama.

Ironinya nih, saat kamu tanya ke dia, “Seberapa jauh aku ada di masa depanmu?” Kalau jawaban dia yang mencintaimu pasti gini, “Sejauh mungkin, sampai kapanpun.” Nah, kalau dia yang tidak mencintaimu ya kurang lebih nanya balik gini, “Lho, mengapa kamu harus ada di masa depanku?” Jleb kuadrat!

“Oke, Dham, cukup. Udah mulai frustasi ini mah!”

Bentar-bentar, aku belum masuk ke bagian solusi. Bukankah seorang lelaki harus merupa solusi bagi setiap pertanyaan dari pasangannya? Sedap!

Huh! Menghela napas dulu. Begini, ada beberapa orang yang percaya bahwa cinta itu harus memiliki. Aku pun pribadi yang termasuk golongan itu. Kalau kamu juga, artinya kamu harus ngelakuin ini kalau mencintai orang yang tidak mencintaimu. Apa saja?

1. Buat dia mengerti bahwa kamu benar-benar mencintainya

Terkadang, adanya kasus seperti ini gara-gara pihak yang tidak mencintai belum mengerti bahwa kamu benar-benar, teramat sangat, bin sempurna mencintainya. Barangkali kalau dia mengerti, mungkin dia bakalan berubah: balik mencintaimu. Namun, itu ‘barangkali’ dan ‘mungkin’ ya. Tidak selalu hipotesisnya benar.

2. Buat dia ngeliat advantage atau keuntungan dicintai kamu

Beri bukti, bukan janji. Maksudnya, bikin dia ngerti apa saja untungnya menjadi yang kamu cintai. Misal, kamu selalu membawanya ke arah positif. Kamu selalu support dia. Kamu selalu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi dia. Kamu selalu... selalu... juga selalu-selalu-yang-lain.

“Tapi, Dham, cinta kok itung-itungan?”

Iya, kan ini bukan ‘cinta monyet’ atau ‘cinta haha-hihi’. Ini cinta yang dewasa, yang logika pun harus mulai dipakai. Kemapanan, jaminan penghidupan, kejujuran, dan sifat kerja keras pasangan, itu juga jadi parameter lho. Masalah didefinisikan sebagai ‘itung-itungan’ mah itu juga boleh, silakan.

“Nah, Dham, semua itu udah aku lakuin. Namun, dia tetap tidak berubah. Dia tetap... dia tetap... tidak balik mencintai. Gimana dong?”

Kalau kasusnya seperti itu, bila kamu sudah usaha semaksimal mungkin tetapi tetap tidak mengubah pendirian dia, berarti kamu harus... kamu harus berhenti berharap.


Katakan gini, “Aku berharap hanya kepada Tuhan, bukan kepadamu.”

Kamu sudah mengupayakan yang terbaik, tetapi dia tetap enggak mengerti, tetap tidak mencintaimu, berarti maknanya, “It’s his/her lost.” Iya, ini kerugian dia. Sebab, kalau dia tahu, dia tidak akan menyepelekanmu.


Lalu, kamu wajib move on, mencoba menemukan orang yang mencintaimu dan yang kamu cintai. Karena keindahan hidup sejatinya adalah mencintai orang yang juga mencintaimu. Take and give.


Kamu masih ingat kan apa doamu tiap malam, “Tuhan, bahagiakanlah aku dengan dia yang mencintaiku sebagai yang satu-satunya.”

Ya, barangkali itu tadi ulasan mengenai ‘bagaimana mencintai orang yang tidak mencintaimu’. Hmm, cukup sedih memang. Tapi kan kegembiraan biasanya muncul ketika kamu sukses melewati kesedihan.

Jadi, semangat ya! Jangan putus asa! Because... what is trully yours would eventually be yours, and what is not, no matter how hard you try, will never be.

Sekian bahasan dari penulis hari ini. Segala hal yang ada di posting ini lagi-lagi terinspirasi dari banyak hal. Bisa jadi kata-kata MTGW, my little book of wisdom-nya Armand, how to win friends and influence people-nya Dale Carnegie, film forrest gump-nya Tom Hanks, juga ceritamu di timeline FB dan twitter.

Mohon maaf apabila ada kesalahan dan kemiripan dialog. Silakan berkomentar bila ada tambahan dan sanggahan.
Terima kasih, salam hangat!
(IPM)

*) Ini ya posting pesananmu mengenai kisah cinta sebelah tangan, semoga suka.
**) Ini sekaligus buat kamu yang mau dan ingin baca malam tadi, tetapi memang belum saatnya di-published.

Bandung, Januari 2015

#Ilustrasi diunduh dari satuduatiga, empat, lima, enam, tujuh

4 comments:

Handhika Blog 2011 said...

mantap tulisanmu dham

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Handhika, atas apresiasinya.
Hmm, penulis mah masih banyak kurangnya, tapi semoga terus memperbaiki diri.
Salam berkarya! :D

reineran said...

"Bukankah seorang lelaki harus merupa solusi bagi setiap pertanyaan dari pasangannya?"
Sayangnya cewek (kebanyakan) gak butuh solusi 😁
Bagus tulisannya Dham...keep writing!

Idham P. Mahatma said...

To : Reineran

Iya, perempuan mah butuhnya didengarkan, terkadang.
Terima kasih, Kak Rani :D

Post a Comment

Followers