January 19, 2015

Mengapa Ada Korban PHP?



Hari ini kampus sudah masuk lagi, liburan berakhir. Menyenangkan, memulai rutinitas dari istirahat sebulan. Pengen diperpanjang tanggal merahnya? Bisa saja, siapa yang melarang. Tapi, hidup selalu punya tenggat waktu. Santai-santai sekarang dan kerja keras nanti, atau sebaliknya? Tinggal pilih!

Ah, paling-paling hari pertama mah enggak ada kuliah. Nanti nih ya kita disuruh ke depan kelas satu per satu untuk cerita ke mana saja liburan kemarin dihabiskan. Hmm, memangnya kamu ini kelas berapa? Kelas 1 SD apa? Hehe.

Well, apa yang bakal dibahas hari ini? Tat-tarat-tarat, topiknya yakni: PHP. Tema tersebut di-request oleh salah seorang perempuan di laman FB penulis. Sudah cukup lama, tapi akhirnya terlunasi juga.

Entah dari mana asalnya istilah ini, aku kurang tahu. Saat googling pun yang keluar justru definisi mengenai salah satu bahasa pemrograman. Tapi, ‘anak kekinian’ pasti ngerti apa singkatan di baliknya. Yap, kamu benar: Pemberi Harapan Palsu.

Aku menganggap PHP itu kakak-adikan sama PHK.

Apa itu PHK, Kaka? *dengan nada SPG yang lagi nawarin food taster.

Hmm, PHK itu akronim dari Pemberi Harapan Kosong. Ya, mirip-mirip lah. Kamu mau pakai istilah PHP atau PHK jatuhnya ya sama saja. Itung-itung nambah vocab gaul.

PHP identik dengan 2 subjek: pelaku dan korban.

Pelaku PHP:
(noun) mereka yang melakukan PHP kepada orang lain dengan motif tertentu.

Korban PHP:
(noun) mereka yang menjadi mangsa para pelaku PHP; biasanya berakhir nyesek, sedih, atau bahkan trauma untuk jatuh cinta lagi.

Definisi barusan bikinan sendiri lho ya, enggak ada kata istilah seperti itu di KBBI mah. Jadi, jangan dianggap serius.

Sebenarnya, enggak ada statistik khusus gender mana yang paling banyak terkena PHP atau PHK. Ya mana ada orang kurang kerjaan di dunia ini yang dengan militannya bikin survei mengenai hal tersebut. Hehe.

Tapi kata temenku, sebut saja Bunga, bilang, “Ya perempuan lah, Dham, gimana sih kamu...”

Mungki si Bunga ini bener-bener kesel habis di-PHP-in, jadi amarahnya dilampiaskan melalui cara ini.

Pertanyaannya, “Apa banyak perempuan lain seperti Bunga, yang jadi korban PHP lelaki?”

Aku rasa, kamu harus mengenal temenku. Namanya Budi, disamarkan. Sok-sokan nyontoh acara investigasi di TV.

Dia ini sering banget di-PHP-in perempuan. Kayaknya tiap ketemu aku, dia selalu cerita, “Dham, aku lagi deket sama si Mona. Doain bisa jadi ya!” Dan, belum juga seminggu, waktu ketemu Budi, eh, dia nyerocos, “Sial men, Mona PHP, Dham. Dia balikan sama mantannya. Padahal udah deket lho sama aku.”

Ada lho kasus yang seperti ini. Jadi, kedudukan siapa yang paling sering di-PHP-in belum ada jawabnya. Masih misterius, cem ol.akademik seminggu sebelum masa PRS. Hehe.

Mengapa bisa ada kejadian PHP?

Paling bener ya karena ada orang yang terlalu ngarep. Terlalu GR. Terlalu yakin. Terlalu optimis tweet dia itu semata untuk kamu. Terlalu percaya diri bahwa emot peluk itu artinya dia menyukaimu. Terlalu tergesa menilai kalau kata ‘iya’ waktu kamu ajak makan malem berdua artinya gayung bersambut. Dan juga terlalu-terlalu-terlalu yang lain.

Apa yang ‘terlalu’ biasanya berujung tidak baik.

Yak, skakmat. Terlalu ngarep bahwa dia akan jadi denganmu membuatmu merupa korban PHP saat kenyataan tidak seindah harapan.

Lalu, kamu pun mengutuk pelaku PHP, “Awas aja ya kalau dia balik lagi!”

Lha, yang terlalu ngarep itu lho kamu, lalu dia itu ternyata baik ke semua orang, terlepas perempuan atau lelaki, seperti matahari. Nah, saat dia baikin kamu, eh kamunya menafsirkan lebih: dia pasti suka aku. Padahal, hanya kamu yang suka, dia mah enggak.

Terus gimana? Ya jadi korban PHP dah.

Kalau kamu lagi nge-chat sama temenmu dan ngetik: wkwkwk atau hahaha. Apa artinya kamu barusan ketawa terbahak-bahak? Ah, biasanya juga enggak. Ekspresi itu terkadang hanya sebuah kepalsuan saja.

Sama halnya saat dia nulis gini ‘aku tertarik sama kamu’, ya bukan berarti dia bener-bener suka, apalagi sayang, terlebih cinta. Tertarik, itu karena kamu menarik.

Terkadang, tahap ‘tertarik’ tidak serta merta berlanjut ke level ‘sayang’ ataupun ‘cinta’. Namun, ia hanya berhenti di sana.

Kalau kata notulen, terdapat 3 tipe pelaku PHP. Apa saja? Yak, check this out!

1. Manipulatif

PHP-ers tipe ini amat berbahaya. Kenapa? Sebab mereka akan membujuk korbannya agar melakukan suatu benefit untuk dirinya. Misal, minta dibelanjakan ini-itu, diporotin isi dompetnya hingga tinggal KTP dan SIM, dirayu agar dibelikan rumah atas namanya, dan... saat semua udah didapet, eh dia pergi seperti angin.

Habis gitu, ya udah, kamu pasti showeran sambil nyetel lagunya Slank yang judulnya balikin.

2. Oportunis

Yang kedua kadar bahayanya lebih ringan. Label kuning, bukan lagi merah. Tipe ini akan mikir kalau calon korbannya mau sama dia. Jadi, ya kenapa enggak? Dia sama sekali enggak menganggap ngelakuin PHP itu salah, toh korbannya juga mau. Tapi mereka tidak merugikan materi atau hal lain bagi kamu, cukup perasaanmu saja.

3. Diplomasi

Ini nih yang lumayan banyak. Tipe ini tidak tegas sikapnya. Mereka itu tidak betul-betul cinta sama kamu, hanya suka. Namun, mereka takut apabila kamu terluka, jadilah mereka tetep deket sama kamu. Alasannya sih, “Aku takut kalau aku pergi, dia jadi sakit.”

Hey, woy, apa dengan kamu tinggal di situ, enggak enak mengakhiri, lantas kamu akan selamanya baginya? Kalau suatu saat kamu pergi juga, kenapa enggak dari awal saja. Hmm, ini PHP yang menguras ‘sumur perasaan’ nih. Sedap!

“Capek ah, Dham, bacanya. Habis panjang. Mana solusinya?”

Simple sih solusinya. Jangan pakai kata ‘terlalu’ untuk hal yang melibatkan perasaan. Jangan pernah! Kecuali, untuk dia yang menjadi ‘soulmate’-mu, pasangan hidupmu, itu  baru tidak apa.

“Itu doang, Dham?”

Iya. Oh ya, satu lagi, untuk kamu para pelaku PHP, jangan beri harapan kalau memang tidak benar-benar suka. Apalagi kepada perempuan, jangan. Sebab, bukan hanya korban PHP-mu yang merana, harga dirimu pun juga akan sirna.

Dan, lagi-lagi semua bahasan ini merujuk pada satu kalimat pamungkas: cinta itu tidak butuh alasan, tapi cinta butuh balasan.

Okay, sebelum diakhiri, inilah persembahan dariku untuk kamu yang lagi baca. Satu single dari Duta dkk, Lapang Dada. Sampai jumpa!


___

Mungkin itu yang bisa kutulis untuk topik PHP. Seperti biasa, segala hal dalam tulisan ini terinspirasi dari banyak sumber, video YouTube, tweet motivator, page FaceBook orang bijak, website galau, hingga pengalaman penulis itu sendiri.

Mohon maaf apabila ada salah, harap maklum, cuma manusia. Silakan berkomentar apabila ada masukan, sanggahan, saran, atau juga harapan.

Terima kasih. Salam hangat.
(IPM)

*) Ini ya yang kamu minta. Hmm, mohon maaf lama, semoga berkenan dibaca!

Bandung, Januari 2015

#Ilustrasi diunduh dari satuduatiga  

8 comments:

Anonymous said...

kak, artikel tentang selingkuh dong :)

Anonymous said...

Kak artikelnya pasangan beda agama,ras, dan suku dong :"

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous 1

Hmm, tentang selingkuh ya? Semoga masuk waiting list untuk dibuat ulasannya ya :D

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous 2

Yang se-agama, se-ras, se-suku saja kadang tidak cocok. Apalagi yang beda? :D

Anonymous said...

dham minta emailmu dong

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous 3

Silakan mengontak saya di idham.mahatma@gmail.com
Terima kasih :D

Happy Fibi said...

Idham :") bikin galau nih. Ngahaha

Idham P. Mahatma said...

To : Happy Fibi

Sudah menjadi tugasku untuk membuat galau. Hehe :D

Post a Comment

Followers