January 13, 2015

Bagaimana Panduan Move On yang Elegan?




Setelah libur tiga hari karena proyekan, kali ini #sketsastra akan ngebahas tentang ‘moving on’.

Sebelum kamu baca artikel ini, akan ‘pas bin afdol’ kalau kamu udah kelarin mencerna postingan penulis sebelumnya, yakni Cerita Ketika Baru Putus Cinta. Biar lengkap bahasannya.

Oh ya, tulisan ini spesial di-request oleh seseorang yang dari dulu sudah putus dengan kekasih, tetapi masih bersikeras mempertahankan hati. Beh, apa enggak aus tuh lama-lama mengenang sendiri?

Kenapa sih ada segolongan orang yang enggan untuk ‘bergerak’ menuju sesuatu yang baru? Mengapa ada pula beberapa manusia yang gemar terpuruk dalam kenangan masa lalu? Dan, satu pertanyaan pamungkas, “Memangnya sesulit itu ya ‘moving on’ dari mantan?

Well, bentar lagi kita akan masuk ke main topic-nya. Hmm, pelan-pelan saja ya ngebahasnya, tapi semoga tetap cetar dan mengena.

Putus cinta itu sakit, lebih sakit lagi itu sudah putus tapi masih cinta, katanya.

Kalimat awalan yang super duper jleb ini akan membuka tema perbincangan kali ini. Gimana? Mau lanjut, kan? Akan tetapi, seperti biasa, aku mau nanya dulu nih, “Mengapa putus cinta bagi beberapa orang itu rasanya teramat sakit?”

Jawabnya tentu, karena cintamu real, nyata. Putus cinta akan terasa sakitnya saat cintamu padanya serius. Kalau hanya main-main, ya pasti tidak sesakit itu ketika putus. Cinta monyet, misalnya, barangkali tidak akan sama rasanya dibandingkan kisahmu yang kandas barusan. Ya, sebab cimon itu cuma main-main.


Kemudian, bagaimana caranya agar tidak sakit lagi saat putus? Ikhlaskan, itu ilmunya. Apapun di dunia ini yang tidak diikhlaskan pasti akan senantiasa menyakitkan.

Apa sih yang bikin sakit saat putus cinta?

Kalau ditilik lebih lanjut nih, sebenarnya, perasaan sakit waktu putus itu akibat dari berhentinya kebiasaan. Bener, enggak? Kebiasaan dikirimi ucapan ‘Good morning’ sewaktu pagi, diingetin, “Sudah makan apa belum?” di penghujung siang atau malam, dianterin ke mana-mana bareng dia, dan sebagainya, yang sebetulnya masih banyak lagi momen yang sengaja kalian cipta berdua.

Dan... pada akhirnya, ‘moving on’ itu bukan soal melupakan perasaan atau kenangan dengannya, melainkan tidak lagi terbiasa mengharapkan kehadiran atau kebersamaan bareng dia. Catet itu!

“Nah, terus gimana dong, Dham, solusinya?”

Setelah tadi mengikhlaskan dia pergi, lalu sekarang syukuri. Lho, kok syukuri? Iya, syukuri bahwa kamu ternyata telah ‘mampu’ untuk mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh. Kan, kalau dulu cintanya enggak bener-bener, pasti enggak akan sesakit ini waktu putus.

Kemudian, “Lebih baik putusnya sekarang, atau nanti?” Hmm, ya lebih baik enggak putus lah ya. Namun, ini kasusnya karena kamu enggak cocok atau enggak baik ketika bareng dia, mangkanya hubungan kalian kandas. Maka, bersyukurlah.

Namun, ada lho yang kasusnya begini, “Aku udah mensyukuri putus karena dia tidak baik bagiku. Tapi, dia yang tidak baik itu ternyata yang terbaik bagiku.”

Hmm, ini biasanya suara hati perempuan, yang berkata seperti ini. Putus dari lelaki kurang baik, tapi menganggapnya yang terbaik.

But, I’m sorry, girls, aku harus bilang bahwa ini tindakan kurang logis. Mengapa? Sebab kamu mengharapkan orang yang tidak baik untuk terus bersamamu. Bahkan, kamu menjadikannya yang terbaik. Agak enggak paham, tapi ya begitulah cinta, terkadang logika di-anaktiri-kan.


Orang yang move on, janjinya, akan mendapat cinta yang lebih baik, kata motivator.

Ada benernya juga, karena setelah putus, kamu akan mendapat chance baru untuk mengenal seseorang, yang seharusnya lebih baik daripada dia yang sebelumnya.

Namun, lagi-lagi namun. Berapa banyak orang yang putus cinta justru berubah jadi tidak menarik, bahkan untuk orang yang terdahulu, ya apalagi untuk orang yang baru? Mereka akan menghabiskan tisu untuk menangis, mengurung diri di kamar, males makan karena apa-apa ingetnya dia, tidak memperhatikan penampilan, dan akut galaunya.

Hmm, berapa banyak yang seperti itu? Rasa-rasanya cukup banyak. Dengan berlaku layaknya di atas, secara tidak langsung kamu hanya merindukan masa lalu yang buruk, dan menyepelekan masa depan yang terbuka. Move on!

“Lalu, anjurannya apa, Dham?”

1. Move away

Terkadang, cara paling simple untuk menginisiasi ‘move on’ ialah dengan ‘move away’. Menjauh, sederhananya. Cobalah untuk menjauhi apa-apa saja yang membuatmu mengingat kembali keadaan yang kamu rindukan dulu.

Kalau kamu dulu sama mantanmu itu sukanya makan di rumah makan Padang, cobalah untuk tidak sarapan di sana lagi. Besok-besok, makan paginya di warung Sunda atau Jawa saja. Terus, misalnya, dulu kalian hobi banget baca komik gratisan di toko buku Jalan Merdeka, mulailah untuk mengubahnya dengan jadi ‘maniac’ novel-novelnya Tere Liye atau Ika Natassa. Ya, dan juga kebiasaan lain, cobalah untuk menjauhinya.

“Kalau tetap enggak lupa, gimana dong, Dham?”

Sabar, kebiasaan itu ya memang begitu, susah untuk dilupakan. Tetapi, bukan berarti enggak bisa, kan? Semangat!

2. Balik ke kehidupan lamamu

Kalau kamu udah move away, mulailah kenalin diri pada kehidupan lama yang sudah kamu tinggalin. Contohnya, orang tua yang diabaikan, sahabat yang jarang disapa kabarnya, hobi menulis yang ditinggalkan, atau yang lain. Ya, sebab dulu kamu sibuk banget sama dia hingga melupakan hal-hal penting ini, yang sebenernya ‘kamu butuhkan di saat terpuruk’.

Mau nanya nih ya, “Dulu kan pernah bahagia toh sebelum kamu sama dia? Nah, terus kenapa sekarang tidak bahagia waktu udah enggak sama dia?”

Ini lucu ya, harusnya, kamu tetap bisa pasang raut muka bahagia meskipun tanpa dirinya. Bisa! Cobalah!

3. Make The New You

Ini istilahnya agak tidak lazim. Namun, ya seperti itu adanya, jadilah dirimu yang baru. Berubahlah jadi lebih baik. Ini bukan dendam, tapi untuk kamu yang ditinggalkan karena pengkhianatan, buatlah dia merasa menyesal karena ‘membuang’ mutiara sepertimu untuk intan yang bahkan belum jadi, alias arang.

Ya, hiduplah secara normal. Bukan lagi hidup dengan meratap, mengharapkan seseorang yang tidak cocok. Bukankah tiap yang baik, akan selalu dipasangkan dengan yang baik pula? Itu janji Tuhan, yang takkan pernah ingkar.
___

Kalau beberapa saran di atas sudah kamu lakuin, rasanya ‘moving on’ bukanlah perkara sulit, tetapi logis yang mau-tak-mau harus dilakukan.

Hiduplah seperti kini, sederhana, supaya bisa jatuh cinta lagi kepada orang lain, tetapi dengan pengalaman dan pelajaran dari gagalnya cinta dengannya.

Sebab, cara terbaik untuk move on dari patah hati adalah... dengan jatuh cinta lagi, kepada dia yang lebih baik.

Sudah sedikit menyembuhkan patah hatimu, kan?

Mungkin sekian posting mengenai ‘moving on’ kali ini. Lagi-lagi, ini bukanlah murni pemikiran penulis. Beberapa unsur luar seperti buku yang pernah dibaca, film yang pernah ditonton, musik yang pernah didengar, serta pengalaman yang pernah dilewati, penulis kompilasikan menjadi satu merupa tulisan ini.

Semoga kamu, iya, kamu, yang baru putus cinta sanggup ‘move on’ secara anggun dan elegan. Buatlah dirimu menjadi pribadi menarik untuk dia yang lebih baik!

Terima kasih, salam hangat.
(IPM)

Bandung, Januari 2015

#Ilustrasi diunduh dari satuduatigaempatlima, dan enam 
 

2 comments:

Iqbal Pratama Abdi Zay said...

"Sebab, cara terbaik untuk move on dari patah hati adalah... dengan jatuh cinta lagi, kepada dia yang lebih baik." Jleb banget kata-katanya dham. Belum jatuh cinta lagi sih tapi udah move on ko haha :D

Idham P. Mahatma said...

Wah, maaf ya kalau 'jleb pisan' kata-katanya. Hehe :D
Makasih banyak, Bro Iqbal, atas apresiasinya. Hmm, semangat 'move up' kalau begitu :D

Post a Comment

Followers