Menikmati Rasa Sakit

February 24, 2015



Rasa sakit tidak selamanya tak berharga sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin saja, rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang.

Biasanya, ketulusan sebuah doa akan muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan untaian pengingat Asma Tuhan yang senantiasa terucap ketika rasa sakit terasa.

Bukankah beban berat dan jerih payah saat menuntut ilmulah yang mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuan terkemuka? Bukankah kerja keras seorang penyair memilih kata-kata untuk bait syairnya yang membuatnya menghasilkan karya sastra luar biasa? Bukankah upaya tiada henti seorang penulis yang menjadikan tulisannya begitu sangat menarik dan penuh ibrah?

Ia yang telah susah payah di awal perjalanan, akan bisa menikmati kesenangan pada akhirnya.

Lain halnya dengan seorang pemuda yang senang hidup berfoya, tidak aktif, tak pernah terbelit masalah, dan tiada pula pernah tertimpa musibah. Ia akan selalu menjadi orang yang malas, enggan bergerak, dan mudah putus asa.

Pelaut ulung tidak terlahir pada perairan tenang.

Di dunia ini, banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya dikarenakan mau bersusah payah. Al Mutanabbi, misalnya, ia sempat mengidap demam yang amat sangat sebelum berhasil menciptakan syair yang indah. Belum lagi yang lain.

Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, nestapa, bencana, derita, penyakit, hingga duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah dengannya, akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. (Sabda Rasul)

Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. Al-Hadid: 23)

Semoga kamu lekas pulih, sembuh yang tidak akan pernah kambuh-kambuh lagi.
(IPM)

Bandung, Februari 2015

*) Beberapa larik dikutip dari La Tahzan
**) Ilustrasi diunduh dari sini
 

Followers