March 31, 2015

Layak Diperjuangkan





Kamu pasti pernah merasa bingung, resah, dan bimbang akan sebuah pertanyaan: Siapakah yang harus aku perjuangkan?
 
Dalam otakmu, ketika akan tertidur pulas, sembari memandangi langit-langit kamar, kamu biasanya membatin, “Apakah mungkin dia? Bagaimana bila bukan dia orangnya?” Terus seperti itu, sampai terjaga lagi.

Manusia itu tempatnya ragu. Terkadang, mereka juga takut akan beberapa hal. Selain Tuhan, yang ditakuti oleh manusia adalah ketidakpastian.

Misalnya, kamu takut mati karena kamu tidak pasti ditempatkan di mana setelahnya; surga ataukah neraka. Kamu ragu menjalani hari sebab tidak pasti esok akan bertemu masalah apalagi; ringan ataukah semakin berat. Kamu takut dan ragu menjalin sebuah hubungan, alasannya satu: dia tidak pasti adalah untukmu.

Lalu, bagaimana cara menjawab pertanyaan itu? Apakah harus menunggu waktu?

Kamu tentu bisa melihat, bukan? Selalu ada tanda untuk menerangkan yang tidak terjawab kini. Memang tidak absolut benar, tapi sejenak semoga bisa dijadikan penenang.

Pernah seorang bijak berkata, “Perjuangkan dia yang menerimamu beserta masa lalumu.” Dia yang layak kamu perjuangkan selalu bisa memaafkan apa yang salah darimu di masa lampau.

Dia tidak akan menghardik dan mencerca dengan kalimat semacam, “Dulu sih kamu... Ah, seandainya kamu dulu tidak... Nyesel aku kalau tahu kamu dulu...” Baginya, kamu ya sekarang, saat ini. Dia tahu, seberapa kelamnya masa lalu seseorang, tetap saja masa depannya masih suci.

Dan, orang bijak itu menyambung frasanya lagi, “Perjuangkan pula dia yang bersedia mendampingimu menuju masa depan lebih baik, seberapa sulit lika-likunya.” Oh, dia melakukan itu sebab dia benar mengerti, indahnya hasil hanya dapat diraih dari perjuangan yang bertubi. Menurutnya, menemani seseorang dari nol jauh lebih berharga daripada menunggunya di puncak.

Selama menjalani proses itulah yang akan membuat dia bisa bercerita kepada anak kalian kelak, bahwasanya hidup ialah tentang berjuang dan melangkah. Tidak diam saja menanti. Tidak berharap ke langit lantas tak berusaha memaksa diri.

Pada akhirnya, carilah yang seperti itu, apabila bertemu, perjuangkan! Jangan disia-siakan! Kamu tahu kan bagaimana menyesalnya kehilangan seseorang yang layak diperjuangkan?
(IPM)

Bandung, Maret 2015

#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

Happy Fibi said...

"Menurutnya, menemani seseorang dari nol jauh lebih berharga daripada menunggunya di puncak."
Tapi, mungkin akan sangat sulit menemukan orang seperti itu, Dham :")

Idham P. Mahatma said...

To : Happy Fibi

Iya, sulit, karena yang seperti itu sedikit.
Tapi, bukan berarti tidak ada, kan? Semoga bertemu.

Post a Comment

Followers