April 02, 2015

Tak Pernah Bosan





Ada sebuah siklus dalam tahap perkenalan. Awalnya ramah, memasang muka paling manis di depan dia, berlanjut ke media sosialnya, entah sekadar saling like status atau retweet, sampai ke obrolan tanpa topik.

Iya, hampir setiap hari kamu dan dia seperti itu. Bangun pagi dimulai dengan ritual menyapa, “Halo, selamat pagi. Sudah bangun? Hmm, semoga harimu cerah,” lalu saling melempar chatting, membahas banyak hal mulai dari menu sarapan, mata kuliah hari ini, hingga jam berapa dia pulang ke rumah.

Semuanya tanpa alpha atau terlewat. Kalau lagi malam minggu, tentu kamu dan dia tidak akan berlama menatap layar ponsel, sebab bertemu langsung jauh lebih menyenangkan dibanding hanya membayangkan. Dan, di akhir malam, kamu pun berpisah sembari menyelipkan kalimat, “Makasih ya buat hari ini. Sweet dreams.

Monoton saja seperti itu. Bahkan, sudah mirip disebut rutinitas. Lama-lama, bahasan kamu dan dia akan perlahan kehilangan arah. Momen tak ada topik, bingung mau bicara apa, sampai diam beberapa lama sembari berpikir keras ingin bertanya apa lagi mulai terjadi.

Yang awalnya sering memasang sticker atau emoticon ‘senyum’, ‘peluk’, ‘tertawa lepas’, tetiba saja menjadi datar, garing, dan tanpa gairah. Seakan-akan, balasan dari dia yang dulu amat kamu tunggu, sekarang menjadi biasa saja.

Dan... kamu pun mulai bosan.

Tentu, hal ini tak akan pernah terjadi bila kamu dan dia sepemikiran, sesudut pandang, serasi, dan sehati. Aku pernah berjumpa dengan pasangan suami-istri yang sudah lama menikah, dan di depanku mereka tengah bercanda. Sungguh, itu bahan bercandaan yang mungkin hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu maksudnya. Akan tetapi, mereka tertawa terbahak.

Di akhir perjumpaan, dengan polos aku bertanya, “Bagaimana bisa kalian tidak merasa bosan dengan satu sama lain?” Jawab sang lelaki mengejutkan, “Bagaimana bisa aku bosan, sementara dia adalah cerminan diriku sendiri. Itu yang disebut soulmate, belahan jiwa.”

Aku diam sejenak, dalam hati pelan saja aku berbisik, “Kamukah orangnya?”
(IPM)

Bandung, April 2015

#Ilustrasi diunduh dari sini 

2 comments:

Pengembara Senja said...

lagi-lagi isi yang tersurat banyak mewakilkan akhir* ini he. semoga memang benar dia ka :))
selalu saya sempatkan membaca postingan di sini, salam.

Idham P. Mahatma said...

To : Pengembara Senja

Terima kasih karena sudah membaca dan mengapresiasi.
Selamat berkunjung, salam :)

Post a Comment

Followers