March 02, 2016

Pengeluh itu Tidak Menarik





Kemarin, kamu mengeluhkan harimu, yang katamu tak sempurna, yang dari ceritamu sangatlah tidak indah, hingga pada akhir bicara kamu berkata, “Aku benci hari ini.” Karena itu, aku menuliskan beberapa larik untukmu, bacalah...

Bila kamu mengeluhkan mengapa dunia begitu kejam, tengoklah kanan dan kirimu, tidakkah kamu menyaksikan betapa banyak orang yang sedang mendapat cobaan, dan betapa banyak yang tengah tertimpa bencana?

Telusurilah, di setiap rumah pasti ada yang merintih, dan setiap pipi pasti pernah basah oleh air mata. Berapa banyak di dunia ini yang terbaring sakit di atas ranjang selama bergenap tahun? Mereka hanya mampu membolak-balikkan badannya, merintih kesakitan, menjerit menahan perih.

Berapa banyak orang yang bernaung dalam penjara selama ganjil dekade, tanpa pernah merasakan lagi bagaimana hangatnya sinar mentari, dan mereka hanya mengenal karat jeruji-jeruji besi.

Berapa banyak orang tua yang harus, meski mau-tak-mau, kehilangan buah hatinya, baik yang masih belia dan lucu-lucunya, atau yang telah dewasa dan penuh pengharapan.

Sungguh, betapa banyaknya penderitaan yang terjadi, dan betapa banyak pula orang-orang yang bersabar menjalani. Maka, kamu bukanlah satu-satunya orang yang mendapat cobaan. Bahkan, mungkin saja penderitaan atau cobaanmu tidak seberapa bila dibandingkan dengan orang lain.

Kini, sudah tiba waktumu untuk memandang diri. Sudah tiba pula saatmu untuk menyadari bahwa hidup adalah perjuangan, penuh aral, dan persiapan. Kamu pun sebaiknya belajar bersiap sebagaimana seekor unta berpengalaman yang hendak mengiringi tuannya menyeberangi padang sahara.

Bandingkan penderitaanmu dengan mereka di sekitarmu serta orang-orang sebelum kamu, maka niscaya kamu akan sadar bahwa sebenarnya kamulah yang lebih beruntung. Bahkan, kamu akan menyadari bilamana penderitaanmu ialah laksana duri-duri kecil yang tak ada artinya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan).
(QS. Al-Baqarah: 214)

Dan akhirnya, panjatkan segala syukur kepada Tuhanmu, atas semua kebaikan-Nya, juga atas semua yang telah diambil-Nya, dan yakinilah kamu tetap mulia bersama cobaan yang akan terlewati dengan penuh kesabaran.

Kamu tak pernah mengeluh lagi setelahnya. Mungkin kamu telah tahu, bahwasanya pengeluh itu memang tidaklah menarik.
(IPM)

Surabaya, 2015

#Beberapa kalimat diambil dari La Tahzan.
#Ilustrasi diunduh dari sini

4 comments:

yoona said...

wah jleb bangeet dhaam haha
btw bagus bangeet isi cerita nya (y)

Idham P. Mahatma said...

To: Widya

Hmm, iya, Wid, terima kasih banyak atas apresiasinya.
Terus berkunjung ya :)

Nur'aeni Alqhisty said...

Idham, terima kasih! :D

Idham P. Mahatma said...

To : Aeni Alqhisty

Wah, sama-sama, Aeni, selamat membaca! :D

Post a Comment

Followers