Perempuan Peragu dan Lelaki Kepala Batu

February 01, 2016






Kamu ialah pribadi yang paling pandai menutupi perasaan. Namamu, Lelaki. Aku mengenalmu baru sejengkal waktu. Kala takdir mempertemukan kamu dan dia, entahlah, kamu berusaha menghalau kehadirannya.

“Ah, tidak sekarang,” ujarmu.
>
Diam-diam saja kamu mulai memperhatikan dia dari jauh. Separuh hatimu berkata jikalau benar kamu ‘gila’ ketika berada di dekatnya. Ingin sekali kamu merupa pelindung baginya. Tak pernah absen kamu mencari tahu: apa yang dia lakukan, bagaimana harinya, serta yang paling sederhana, menu makanan apa yang akan dia santap nanti malam?

Orang yang tengah jatuh cinta ya begitu, merupa pemerhati sejati.

Namun, separuh hatimu yang lain menolak untuk mengakui. Ingin sekali kamu membunuh rasa itu dengan berbagai cara. Satu yang paling ampuh ialah dengan menyibukkan diri. Kamu mulai aktif di sana-sini. Setiap kegiatan diikuti, sekadar mencari relasi dan pengalaman, atau juga menutupi kegundahan agar dia tak selalu dipikirkan.

Benar saja, kamu tidak pernah melamun sepanjang hari. Pagi sudah pergi, siang duduk di depan layar menyelesaikan satu tugas, sore bersiap menunaikan segala to do list yang belum tuntas, dan malam... sebelum kamu terlelap, adalah waktu di mana kamu tak pernah berdamai dengan realita: memikirkan dia.

Ya, kenyataan tak pernah berdusta, kamu memang menyukainya.

Ketika dia berada di dekatmu, lucu sekali tingkahmu berubah, menjadi tidak biasa. Sebentar-sebentar kamu membenarkan rambut, mengusap dahi yang berkeringat, membetulkan posisi duduk, hingga yang paling kentara yakni terbata jika berbicara.

Benar kata orang, saat di mana kamu jatuh cinta, seringkali kamu akan salah tingkah.

“Mengapa tak kamu ungkapkan saja?” aku bertanya kepadamu, yang seminggu ini kamu bercerita lengkap tentang dia.

“Aku merasa dia tak memiliki rasa yang sama.”

Laki-laki semacam ini bukanlah dia yang kalah sebelum berperang. Bukan pula dia yang tak bernyali. Namun, dia memikirkan kemungkinan bila cintanya berbalas, akan dibawa ke mana jalan cerita setelahnya harus sudah jelas.

Tidak ada yang benar-benar siap dalam satu hubungan. Semua butuh proses dan permulaan.

“Kamu itu terlalu banyak pertimbangan. Kamu juga terlalu khawatir bila rasamu akannya berseberangan,” pungkasku.

Terus saja kamu membenamkan perasaanmu itu. Jauh lebih dalam. Jauh lebih kelam. Hingga pada akhirnya, setiap rasa yang terpendam, hanya akan menjadi balon yang terus dipompa udara, ya, suatu ketika akan meluap juga.



What if?”

“Apa maksudmu?” sergahmu balik bertanya ke arahku.

“Iya, bagaimana jika dia juga sama sepertimu. Sama-sama kepala batu. Sama-sama menyimpan rasa tetapi tak mau mengaku. Sama-sama cinta... dan berharap kamulah yang akan lebih dulu memulainya.”


____

Perempuan itu peragu. Lelaki yang tahu, pasti takkan membuat dia terlalu lama menunggu.
(IPM)

Surabaya, 2015

#Ilustrasi diunduh dari satu, dua

Followers