June 19, 2015

Tak Hanya Memberi





Usahamu untuk mendapatkan dia sudah kelewat batas, menurutku. Sekadar menarik perhatiannya barang sebentar, berbagai cara kamu lancarkan.

Kamu pernah hampir sejam memilih setelan baju saat dia mengajakmu ke luar: makan malam. Kamu begitu ingin terlihat sempurna di depan mata indahnya. Sepatu dipoles mengilat. Baju dirapikan hingga lekuknya tak ada. Sampai-sampai, sebelum berangkat kamu mampir ke tempatku dahulu guna menanyakan, “Gimana, udah pas, kan?”

“Iya, mantap,” responku singkat.

Jamuan makan pun berlangsung biasa saja. Dia, justru tampil seadanya. Bahkan, dia datang terlambat dan membuatmu lama menunggu. Duduk bengong, berpura main gadget, dan memperhati sesiapa yang datang, ialah alibimu menutupi penantian.

“Mungkin dia lagi sibuk, sampai lupa jam berapa harus datang,” kamu menghibur diri, memoles kekecewaan dengan pemakluman.

Di lain kesempatan, kamu mengajaknya ke suatu tempat. “Dia pengen banget ke sana, maka aku jadikan kejutan saja,” ceritamu kepadaku setelah rencanamu terealisasi. Lalu, bagaimana tanggapannya? “Ya, dia senang, bahagia sekali. Aku bisa melihat itu dari wajahnya,” tutupmu.

Kamu dan dia sering bertukar kabar. Meski jarang bertatap muka, aplikasi media sosial menjadi obat sekaligus solusi untuk problematika ini. Rajin sekali kamu menanyakan kabar kepadanya. Dari yang singkat semisal, “Kamu udah bangun? Hari ini mau ngapain?” sampai ke topik serius, “Kamu lagi sakit? Aku antar ya ke dokter.”

Ya, kalau aku perhatikan, kamu itu benar suka kepadanya. Kamu berusaha menjadi jawaban dari setiap tanya yang terlontar darinya. Namun, aku justru menaruh kasihan kepadamu.

Kamu kehilangan dirimu sendiri, terlebih waktumu.

Dia, yang kamu sanjung bagaikan dewi atau permaisuri, tak pernah menaruh khawatir ketika kamu jatuh sakit. Dia, yang kamu puji merupa perempuan terbaik, nyatanya tidak ada di sampingmu saat beban dunia ingin menelanmu utuh. Dia, yang kamu takzimkan merupa masa depanmu, justru ragu-ragu dan acuh kepadamu.

Apakah itu yang dinamakan cinta?





Tidak ada yang benar-benar tulus hanya memberi di dunia ini, kecuali mentari.

Dan kamu... tentulah bukan matahari.
(IPM)

Surabaya, Juni 2015
#Ilustrasi diunduh dari satudua

2 comments:

Anonymous said...

wahh, mungkin mulai sekarang saya harus mencoba untuk berhenti selalu memberi yaa dham

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous

Iya, silakan dicoba, semoga dia mendapat satu pelajaran berharga :)

Post a Comment

Followers