July 11, 2015

Cukup Mencintaimu






Jatuh cinta kepadamu sungguhlah berbeda. Tak seperti yang biasa terjadi sebelumnya. Banyak orang di luar sana, yang bila mereka tengah dilanda cinta, mereka kehilangan jati dirinya.

Denganmu, aku tak perlu repot menjadi the one yang bukan aku. Tidak perlu berpura-pura terlihat pintar, rapi, bijaksana, atau pula tahu segala hal mengenai dunia. Katamu, kedewasaan seseorang terlihat ketika ia tak berusaha memakai topeng untuk menutupi kekurangannya.

Kamu selalu menerima, selama yang kutunjukkan ialah murni yang terbaik dalam diriku. Tak ada rasa tertekan karena tuntutan atau pun pencapaian. Kamu memposisikan aku sebagai manusia, dalam makna literal.

Hanya saat bertemu kamu, aku bisa berekspresi sesuai kehendakku. Tidak memasang tedeng alih-alih atau permak norak untuk mengelabui. Saat hari sedang terik, tentu paksaan memakai kemeja rapi aku tanggalkan, cukup setelan kaos polos dan jeans belel khas lelaki kukenakan. Sempurna pun harus sesuai keadaan.

Kamu juga berlaku adil kepada dirimu. Tampilanmu tak pernah terkesan berlebihan dan menggurui. Ada ‘pas’ dalam kata ‘pasangan’, tak lebih, tak dikurangkan. Dan, kamu paham betul akan hal itu.

Sebenarnya, makna sederhana dari cinta ialah kenyamanan. Nyaman dan berterus terang inilah yang membuat masing-masing dari kita masih di sini, saling menemani.

Bila nanti malam kamu membaca tulisan ini, semoga kamu tersenyum. Tipis saja, tak perlu lebar. Bukankah aku dan kamu selalu mencintai secara cukup dan tak berlebih?
(IPM)

Surabaya, Juli 2015

#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

Shiza Reshmadian said...

Aku suka ini,,, seperti itu rasanya cinta, cukup tak berlebih, dan itu sangat sangat membahagiakan.

Idham P. Mahatma said...

To : Shiza Reshmadian

Terima kasih, Shiza, sudah sudih membaca. Apapun yang berlebihan, biasanya justru memuakkan, seperti katamu.

Post a Comment

Followers