July 07, 2015

Kali Pertama Kamu Memasak






Berkunjung ke kediamanmu, satu hal yang tak bisa dibayangkan. Undangan ini pula bisa dikatakan insidental. Tanpa rancangan. Dengan bibir tersenyum, kemarin kamu bilang, “Buka di rumah yuk sesekali, nanti aku jadi asisten koki Ibu deh.”
.
Tanpa perlawanan, aku mengiyakan. Mana mungkin pula menolak ajakan dari seorang yang spesial. Namun, ada yang berbeda ketika kamu menemuiku di ruang tamu. Kulihat dari rona wajah, kamu tampak tengah dilanda kecemasan.

Ada apa?

Kalimat tanya itu pendek, tetapi jawaban darimu begitu teramat panjang. Susah payah kamu menjelaskan, dan kusimpulkan kamu tengah ada masalah dengan seseorang, rekanmu.

Kau tahu, sebagian besar dari masalah yang datang kepadamu nyatanya ialah berasal dari kamu sendiri. Sebenarnya, kamu menciptakan satu masalah untuk dirimu saat kamu ikut campur ke dalam urusan orang lain.

Kamu melakukannya karena kamu yakin bahwa caramulah yang terbaik dan orang-orang yang tidak sepemikiran denganmu patut kamu kritik dan dituntun ke arah yang benar, ya, ke arahmu.

Kamu bersikap seperti itu karena egomu masih kamu agungkan. Kamu merasa selalu benar dan tujuanmu untuk orang lain ialah menempatkan mereka pada jalur yang kamu anggap paling ‘baik’.

Tentu saja mereka akan berontak, tak mau mengalah. Di dunia ini, tak ada seorangpun yang mau disalahkan, meskipun mereka salah.


“Seandainya saja kamu tidak ikut campur dalam urusan orang lain dan memberi nasihat hanya bila diminta, maka kamu tidak akan banyak bercemas, seperti kini,” aku menutup obrolan sore bersamamu, sembari menunggu berbuka, sambil menanti mencicip masakan perdana di rumahmu.

“Iya, aku ngerti, maafin,” sergahmu lalu air mukamu tampak mulai berubah sumringah kembali.

“Nak, ini tadi anak Tante lho yang masak. Perdana. Ayo, wajib dihabiskan!”

Aku hanya bisa tersenyum. Meskipun nanti cita rasanya berlainan, mana tega lidahku banyak berkomentar.
___

Ayahku, dahulu, tak pernah angkat bicara atau memberi kritik tentang masakan Ibu. Walaupun hambar, terlalu pedas, atau bagaimana, beliau hanya diam. Terus melahapnya.

“Ayah, mengapa Ayah diam saja?” tanyaku ketika masih kecil.

“Sudah, makanlah, hargai masakan Ibumu. Kamu masih ingin, kan, melihat wajah cantik Ibu tersenyum?” pungkas Ayah, singkat.
(IPM)

Surabaya, Juli 2015

#Tulisan ini terinspirasi setelah penulis membaca Stop Worrying and Start Living.
#Ilustrasi diunduh dari satu, dua 

0 comments:

Post a Comment

Followers