November 21, 2015

Berharap




(2/3)
Ada satu cerita unik saat kamu berkenalan dengannya...

Air wudlu di kantormu selalu saja dingin, padahal hari tengah terik. Di sini baru turun hujan sekali, itu pun hanya sebentar dan menurutmu tidak cocok bila dikatagorikan sebagai penghujan. “Gerimis yang labil, mungkin lebih tepat,” pungkasmu.
 
Tidak ada yang lebih indah daripada menyerahkan diri kepada Sang Pemilik Hidup. Seseorang butuh suatu Dzat sebagai tempat bergantung. Sesuatu yang menjamin apa yang tidak pasti. Sesuatu yang memberi tenang di kala kekhawatiran menghadang. Sesuatu yang kamu sebut sebagai Tuhan.

Ritual siang harimu, tepat di interval jam istirahat kerja yang sempit, ialah bergegas menemui Dia. Ingin melapor. Ingin bersedu. Ingin membagi segala yang telah datang dan terjadi sebelumnya. Di tengah pemujaanmu yang sendirian, beberapa orang lain ternyata mengikuti di belakang.

Seorang lelaki menepuk pundakmu, mendapukmu secara sepihak merupa imam. Dan, seperti seharusnya, lelaki itu menirukan gerakanmu, barang sekian detik berjeda. Kepemimpinan bisa dipelajari dari mana saja, termasuk ketika beribadah.

Di akhir sembahyang, kamu mengakhirinya dengan salam. Refleks, paskah selesai, lelaki yang mengajakmu berjamaah tadi mengulurkan tangannya sebagai tanda ingin berjabat. Dan, wajahmu menoleh sedikit ke belakang, tersenyum kepada lelaki itu sembari menyalami.

Senyummu masih saja mengembang. Bukan karena lelaki itu ternyata adalah bosmu, atau komisaris perusahaan ini, tapi jauh di belakang lelaki itu, ada satu shaf yang menjadi fokus perhatianmu kini. Satu shaf yang sepi. Satu shaf yang berdiam satu orang: dia.

Iya, dia, Perempuan Bertudung Biru Muda.

Doamu siang ini lebih panjang daripada biasanya. Ada baris yang kamu tambahkan. Ada larik baru yang kamu masukkan. Ada keinginan, yang sejujurnya kamu sendiri berharap ingin menjadi kenyataan. Ada dia di sana, di bisik bibirmu kepada Tuhan.

Tidak pernah salah, seseorang yang tengah jatuh cinta, pada akhirnya hanya akan berharap kepada Tuhan, yang mengatur segala macam pertemuan.
(IPM)

Cilegon, November 2015
#Ilustrasi diunduh dari sini

1 comments:

sekilas said...

sedap, cinta bersemi di musim cherry

Post a Comment

Followers