April 17, 2016

Oleh Waktu




Tentu ada yang berbeda dari aku dan kamu semenjak terakhir bertemu. Sekiranya, bergenap tahun lalu, lupa tepatnya kapan. Sudah lama, mungkin juga teramat lampau. Sejak perbincangan gugup, ditemani canda-tawa tanggung, kamu duduk dipisahkan dua piring sajian di depanku.
 
Oh iya, waktu itu hujan. Sangat deras. Hingga sangat tak mungkin untukmu pulang cepat, dan aku pun menawarkan diri merupa ‘sopir pribadi’. Kisah itu kian menggantung. Tidak ada kejelasan. Bahkan, sampai perpisahan itu diretas, tak ada dari kita yang angkat bicara menyuarakan kehilangan.

Barangkali, aku masih menomorsatukan gengsi. Anak muda memang seperti itu. Dan, kamu juga tak mau kalah kuat, tak mau kalah tangguh. Hilang sudah. Lenyap tak bersisa. Aku dengan kanvasku, serta kamu dengan lembaranmu.

“Waktu itu penjawab...,” kata Ibuku, ketika bercerita tentang bagaimana pertemuannya dengan Ayah. “Ibu tidak menyangka, bagaimana mungkin, jarak yang teramat jauh terpisah, segala beda, tapi pada akhirnya bersama,” lanjutnya.

Nyatanya, kehidupan memang mempunyai pola yang tak bisa dimengerti manusia. Terutama tentang pertemuan. Ada konspirasi semesta, bersama Tuhan, yang mengatur segala ‘kebetulan’. Tentu di luar kuasaku, serta pula kehendakmu.

Selayaknya, aku hanya digerakkan oleh-Nya menujumu, setelah bertahun salah arah entah ke mana. Bisa jadi kamu pun serupa, melewati kelokan, terjerembab dan bangkit kembali, sampai akhirnya mengambil jalan berputar untuk ke mari.

Proses itu, yang nantinya menjadi bumbu perbincangan selagi menghabiskan waktu menua. Seseorang yang memiliki warni masa lalu, selalu tampak tangguh. Dia telah berhasil melaluinya, dengan segala usaha, dengan berbagai upaya.

Aku dapat melihat garis keras wajahmu, yang meneriakkan mimpi besar. Airmuka yang akan selalu mendorong lelakinya untuk maju, lebih hebat, lebih adigdaya. Tenanglah, kamu tak perlu ragu, aku juga menyimpan hasrat setinggi langit yang ingin kucapai. Aku menyiapkan detilnya sedari dulu, untuk digenapi bersama, bersediakah?

“Kamu, kapan kamu main ke rumah?” tanyamu, ingin tahu.

"Secepatnya,” pungkasku.
(IPM)

Anyer, April 2016
#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

Anonymous said...

Jadi, Kapan mau main ke rumah?





bagus Mas tulisannya:)
Tulis menulis ya

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous

Kapan mau main ke rumah? Secepatnya.
Terima kasih banyak telah membaca, semoga betah ya. :D

Post a Comment

Followers