May 08, 2016

Kebetulan Saja Jodoh!



Terlalu banyak momen kebetulan dalam baris novel ini...

Sang lelaki, Sena, yang telah jatuh hati semenjak berseragam putih merah, tumbuh dewasa begitu saja dengan tetap mencintai seorang wanita, Keara. Sempat dirasa akan berpisah paskah lulus, nyatanya mereka selalu berdua, dalam tempat dan waktu yang sama.

Memang, hidup tidak melulu menyajikan laman bahagia. Terkadang, Tuhan sengaja menghadiahkan tangis agar sukacitamu lebih bermakna. Dan, boleh jadi kisah sedih itu harus diretas, ketika Sena harus menyeberang ke lain kota, sementara Keara menetap untuk suatu sebab.

Hubungan jarak jauh itu takkan pernah mudah, kata seorang rekan. Benar saja, mereka berdua mengamini. Skenario yang pada awalnya semanis madu, lambat laun mulai membiru, kian menyisakan haru. Kabar mulai jarang bersambang, rasa mulai sedikit dangkal mengambang.

Dingin hubungan pun dijalani, tanpa berkomunikasi, atau lebih jauh barangkali saling tak mengenal lagi. Dan, entah energi apa yang sanggup menggerakkan, Sena ternyata tidak bisa melepaskan Keara. Dia kembali. Namun, keadaannya sudah tak sama lagi. Keara tak sesehat dulu, tak sekuat di masa lalu.

Penyesalan memang selalu hadir terlambat, bukan? Meski berkedok saling menjaga, dengan tidak saling menghubungi sementara waktu, tetapi bukanlah penantian yang diinginkan oleh setiap pasangan. Penantian itu menyebalkan. Sena kurasa tak mengerti akan hal itu.

Jawaban dari setiap penyesalan adalah keberanian. Berani untuk mengakui kesalahan, berani untuk berubah, serta berani untuk memperbaiki semuanya. Sena membayar semua sesal dengan mengajak Keara menikah. Apa dikata, nasib tak sanggup berkompromi. Keara hanya menyisakan raga, tanpa jiwa. Kekasih lelaki malang itu tiada, dengan satu sakit yang masih tanda tanya obatnya.

Orang yang kamu sayangi, yang kamu paling idam-idamkan, yang kamu proyeksikan dia pada langit-langit kamar setiap malam, untuk mengisi sisa hidupmu, menemani ribuan kali di kala momen sarapan pagi, hingga tak sanggup bila sehari saja tanpanya, boleh jadi pada akhirnya hanyalah sebagai perantara untuk jodohmu yang sesungguhnya. Tak ada yang tahu.

Terlalu banyak momen kebetulan dalam baris novel ini. Namun, barangkali jodoh itu memang rangkaian dari setiap kebetulan. Iya, kebetulan aku berjodoh denganmu, dan kamu kebetulan juga berjodoh denganku. Pas!
(IPM)

Anyer, Mei 2016

*Tulisan ini disadur dari novel 'Jodoh' karangan Fahd Pahdepie

#Ilustrasi diunduh dari sini

4 comments:

Anonymous said...

Bagus Mas tulisannya :)
Terus menulis ya.

Happy Fibi said...

Pas baca di bagian gambar, saya kira mau review 'Pew Die Pie' (youtuber) :v
Tetep nyess mas tulisanmu :"D
Wes ndang disegerakan, ojok nggalau ae :p

Reni Novita Sari said...

Kebetulan mampir ke blog ini. Hahaha
Keren tulisannya :)

Idham P. Mahatma said...

To : Anonymous

Terima kasih telah berkunjung, pasti terus menulis :D


To : Happy Fibi

Iya, segera dan tidak lama lagi. Tunggu tanggal mainnya ya.
Terima kasih :D


To : Reni Novita Sari
Terima kasih, Reni, rajin berkunjung ya! :D

Post a Comment

Followers